[EXO FANFICTION] NONVERSATION – Leavendouxr

14835625738576

NONVERSATION – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Chanyeol, Nina [OC]

Genre: half-romance, college!au

Rated: T

Duration: Vignette
.
.

Ada saja hal tidak penting yang selalu dibicarakan Chanyeol.

.
.
.
.

Mereka biasanya bertemu saat jam makan siang. Duduk di tempat yang sama dengan menu yang sama. Barangkali ada keterlambatan waktu kalau-kalau hujan deras mengguyur siang atau bunga langit mulai berjatuhan dengan suhu rendah menggertak gigi.

 

Hari ini juga sama. Meski ujian ekonomi membuatnya menekuk wajah sepanjang pagi juga bibirnya yang berulangkali menyebut nama Tuhan, tapi sulit sekali untuk mengabaikan pria yang tiga tahun ini menempel terus padanya. Bukan dalam ikatan romantis, hanya sebatas hubungan platonik.

 

Cengiran lebarnya menarik langkah Nina Braus untuk mendekat. Meja di sudut ruangan, hampir dekat dengan tanaman barisan tanaman bonsai dan tomat mini yang belum lama ini disusun menempel pada jendela. Supaya makin bagus, barangkali.

 

Nina menaruh tasnya. Ia menduduki kursi, sedikit bertanya-tanya apa yang menyebabkan pria tinggi besar mantan pemain anggar kampus itu bisa tersenyum terus seperti tidak waras. Mungkin dia baru mengganti batrei di kepalanya, entahlah, Nina tidak ingin membuat lelucon siang ini. Ia butuh makan atau minum atau apapun yang bisa membuat keadaan psikologisnya normal kembali setelah ujian.

 

“Wajahmu aneh begitu. Memikirkan hal bodoh apa lagi?”

 

Park Chanyeol memundurkan duduknya, “Kau tahu sejak kemarin aku ketimpa keberuntungan.”

 

“Oh? Itu bagus.” seperti biasa, Nina memesan maple bar dan Diet Coke, membiarkan pelayan mencatat pesanannya lalu beralih pada Chanyeol.

 

Pria penuh senyuman itu―Nina yakin ia tidak akan kehabisan stok senyum selama hayatnya―memesan bear claw dan susu pisang. Nina menahan decihan. Ia benci bentuk pastri itu dan tidak tahu apakah ia perlu menahan mual selama Chanyeol menyantap itu nanti. Ingatkan ia untuk tidak menatap pastri milik Chanyeol saat makan.

 

“Tadi pagi aku bertemu Mrs. Eve, dia memberiku dua kotak susu, katanya biar aku makin tinggi. Kau tahu semalaman aku begadang main game dan tidak sempat belajar untuk ujian, tapi memang hari ini keberuntungan yang beruntun, jadi Tarra memberiku banyak contekan. Wow. Hebatnya lagi, kelasku diawasi oleh asisten Mr. Zack. Bukankah itu menyenangkan?”

 

Nina hanya mengangguk. Tidak minat. Bicara dengan Chanyeol benar-benar tanpa manfaat. Tanpa tujuan. Nanti-nanti anak itu mulai berkelakar yang aneh-aneh, lalu akan tertawa sendiri sementara Nina masih berpikir apakah ada sesuatu yang lucu untuk ditertawakan. Entah karena selera humor Nina yang tidak sekelas Chanyeol atau anak itu kemampuan melawaknya masih tingkat receh.

 

“Kau tahu tidak, aku menonton tim basket latihan, tadi, sehabis mata kuliah Mrs. Keith dan yang membuatku tidak bisa kedip itu adalah tim pemandu sorak mereka! Woah, kau harus lihat betis kecil dan rok pendek mereka. Benar-benar rejeki yang tidak boleh ditolak kalau ada angin menerpa dan rok berkibar seperti bendera.”

 

“Berhenti berbicara aneh.”

 

Pesanan mereka datang. Nina mengambil satu potongan kecil maple barnya.

 

“Hm, apa lagi, ya? Oh, ya, ya, aku dapat kabar baik lho. Sudah aku ceritakan belum? Kakakku menelepon pagi ini, katanya ia akan datang minggu depan. Bersama suami dan anaknya. Aku tidak sabar untuk menarik pipi James. Dia pasti sudah bisa mengunyah biskuit.”

 

Nina mengangguk, “Ya, berikan ia biskuit, bukan kerupuk.”

 

“Aku tahu itu, sayang, jangan beri nasihat begitu.” Chanyeol menaik-turunkan alisnya, persis orang kurang kerjaan―tapi dari itu semua ia cukup menikmati ekspresi jengkel yang kini menyapu seluruh wajah Nina.

 

“Kaleng sodaku masih penuh, kuharap kau tidak keberatan kulempar dengan ini.” jemari gadis itu menimang kaleng sodanya, Chanyeol buru-buru melukiskan cengir lebar.

 

“Omong-omong, aku masih punya satu kabar baik lagi. Kau mau tahu tidak?”

 

“Selama masih ada hubungannya denganku, bicara saja. Kalau tidak, diam dan makan rotimu.”

 

Chanyeol terkekeh pelan, “Oke, oke. Sebetulnya aku berencana membeli apartemen baru―” pria itu berhenti untuk membalas pandangan curiga yang terarah padanya, “―demi Tuhan aku tidak mencuri uang siapapun.” Nina menahan tawa sebelum Chanyeol melanjutkan, “Kupikir uang yang dikirimkan orangtuaku sudah cukup banyak juga ditambah upah membantu Junmyun mengurus kafenya setiap weekend. Jadi aku memutuskan untuk membeli apartemen. Bagaimana menurutmu?”

 

Tumben kali ini agak berguna.

 

Nina menelan kunyahannya. “Bagus. Tidak masalah selama itu baik, daripada kau mabuk-mabukan dengan teman-temanmu yang berbahu besar itu.” gadis itu melirik, “Tapi tunggu, apa hubungannya denganku?”

 

“Tentu saja ada. Apartemen yang akan kubeli itu lumayan besar. Kalau sudah jadi kubeli, kau mau tinggal bersamaku disana?”

.

.

.

-fin.

[Oke, ini fic EXO pertama yang gue post disini mueheeeeee dan ini juga pernah di post di line EXO FanFiction /hoe/

Tertanda,

Dou. Atau Far. Atau apapun lah terserah xD]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s