[EXO FANFICTION] NEXTERDAY – Leavendouxr

1484480448226

NEXTERDAY – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Jongin, Annie [OC]

Genre: half-romance, college!au

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

Kalau bukan karena tongkat lacrosse, dua hari kemudian, mereka belum tentu berkenalan.

.

.

.

.

Ada sebotol air mineral yang mengintip malu dari balik lipatan handuk juga tumpukan tas. Kim Jongin menemukannya saat naik ke tribun untuk mengambil handuknya seusai melakukan toast dengan teman satu timnya. Alis menukik, sementara oniks mencoba meneliti keadaan tribun untuk menemukan tersangka yang menyembunyikan botol air di dekat barang-barangnya.

 

Tidak ada siapapun. Hanya ada dia dan anggota timnya yang masih bergerombol di pinggir lapangan.

 

Jongin melayangkan jemarinya, menyentuh botol air mineral. Sehun mendekatinya tergesa, mukanya amburadul, “Jongin, bisa minta air minummu? Sial, aku lupa bawa tumblerku.”

 

Si pemuda berkulit lebih gelap bergerak lambat, mengeluarkan tumbler dari tasnya. Menyodorkannya pada Sehun.

 

“Kenapa tidak air mineral itu saja? Lagipula tumben sekali kau beli minum kalau bawa tumbler. Kau―” Sehun berhenti, gerakannya yang hampir menyentuhkan ujung tumbler pada mulutnya juga tergantung di udara, “―ah kenapa hidupmu bisa beruntung?” alis si lawan bicara makin menekuk dalam, “Pasti dari salah satu penggemarmu.”

 

“Memangnya aku siapa?”

 

“Tentu saja Kim Jongin, kapten tim lacrosse. Siapa yang tidak mengenalmu sampai rela keluar uang untuk memberikan air mineral tanpa identitas?”

 

Jongin sedikit memutar otak. Saat sekelebat bayang terbit di kepalanya, ia mengendikkan bahu, memutar tutup botol dan menghabiskan airnya segera.

.

.

.

Mengurung bukunya lebih erat pada lipatan tangan, Annie Cavendish bergerak cepat melewati sekumpulan gadis pemandu sorak yang tengah bercengkrama di depan ruang loker tanpa peduli tempat. Tanpa sadar bahunya bertubrukan kecil dengan salah satu dari mereka.

 

“Oh, ada yang mengganggu.”

 

Annie menarik alisnya heran, “Maaf?”

 

“Kau menabrakku, Cavendish.”

 

“Kau menghalangi jalanku.” Annie bahkan tidak menyangka suaranya bisa begitu ketus. Gadis itu―yang rupanya ketua pemandu sorak mendekat. Annie mendengus pelan, mengamati satu per satu anggota cheers mengintainya sewot.

 

“Kau―”

 

“Sori, aku punya hak untuk lewat dengan leluasa.” setelahnya ia masuk, benar-benar melewati amarah yang jelas tersapu di wajah cantik si ketua juga pekikan kesalnya.

 

Annie mengeluarkan kunci loker dari selipan saku jinsnya, membukanya sedikit hanya untuk mengobrak-abrik apa yang ada disana. Duapuluh menit lagi mata kuliah literatur Mr. Smith akan dimulai. Masih ada waktu untuk mengisi perut. Annie mengembalikan buku mata kuliah sebelumnya ke loker, menggantinya dengan diktat yang lain.

 

Ia memutari dua loker sebelum enyah dari sana, berbelok di ujung koridor sebelum mengantri untuk mendapatkan jatah makan siang. Ia memesan glazed twist donut dan kopi kalengan, kemudian membawa bakinya mengisi meja kecil di sudut kantin.

 

Pandangannya belum beralih dari potongan besar rotinya sementara sekelompok orang baru saja memasuki kantin dengan ramai. Iris hijaunya mengintip lewat celah bulu mata, menyadari kehadiran anggota tim lacrosse kebanggaan kampusnya.

 

Mereka menghuni meja utama yang besarnya tiga kali lipat dari yang ditempati Annie. Salah seorang, yang paling jangkung diantara yang lain, Park Chanyeol, bersorak keras―entah apa itu, Annie tidak peduli.

 

Jarum panjang jam tangannya ada di pukul lima. Annie menyelesaikan makannya cepat. Kelasnya akan dimulai lima menit lagi. Kursi berdecit saat ia menggesernya ke belakang.

 

“Wah, sayang sekali. Tidak ada ucapan manis dari Cavendish.” Chanyeol memulai.

 

Begitu melewati segerombolan anak itu, Annie mendengus. Nama belakangnya serasa dipanggil.

 

Sedikit menoleh, ia berhasil mempertemukan dua pasang manik dwiwarna dalam hening. Ia kenal orang itu. Tepat duduk disebelah Chanyeol. Kapten tim lacrosse. Sudah terkenal seantero kampus, perpaduan ketangkasan dan kapasitas otak mumpuni. Cara bermainnya cerdik; tapi cerdik saja tidak cukup untuk menjatuhkannya.

 

Tanpa bicara apapun, Annie beranjak dari sana.

.

.

.

 

Siang itu masih hari Rabu, akhir November. Annie berjalan tergabas, hampir melewatkan jam sosiologi Ms. Keana yang galaknya nomor wahid. Terlambat sedikit, habis sudah. Dan sial, kelasnya harus melewati ruang loker laki-laki. Tidak ada masalah, sebetulnya, kalau segerombolan pemuda―ia yakin anggota tim lacrosse tidak meluber sampai memenuhi koridor.

 

Masa bodoh, Annie makin mempercepat langkahnya, menerobos keramaian. Annie sadar kalau bahunya menyentak kecil tubuh seseorang, namun tidak paham kalau gerakannya menyebabkan kaitan tangan pada tongkat lacrosse lolos tanpa pencegahan―hingga terlempar melintang di tengah jalan.

 

Kaki-kaki berbalut sepatu ketsnya tersandung. Kali ini realita mengambil alih peran, dimana gerak refleks kalah oleh gravitasi. Annie terseruduk, hampir berguling dengan tubuh bagian depan mendarat duluan keatas marmer dingin. Lumayan sakit, tapi malunya lebih-lebih.

 

Ia mengumpat. Segala jenis kata kotor di otaknya hampir saja keluar. Jatuh ditengah kumpulan anak laki-laki, semua memandangnya tanpa kedip, nyeri di beberapa bagian sampai malu menghiasi wajah. Oh, dia musti kabur cepat.

 

“Hati-hati, Cavendish, kau hampir mematahkan tulang rusukmu.” Ada yang bicara. Tersua dari arah belakang. Barangkali kenalannya, entah Minsuk atau Jongdae. Tapi tangan yang terulur dari arah depan, jelas bukan tangan si laki-laki yang tadi bicara.

 

Kulitnya agak cokelat. Ada luka gores yang hampir kering di dekat jarinya. Annie mencoba bangkit, alih-alih mengambil bantuan, ia menepuk celananya yang berdebu. Tangan disana masih tergantung bisu, tanpa tersahut.

 

Begitu menaikkan sedikit kepalanya, ada sambutan hangat dari oniks yang baru diabaikan olehnya. Bibir tipis itu bergerak sedikit, “Lain kali perhatikan jalanmu.” barulah Annie sadar kalau aksi terjatuhnya tadi sudah memakan banyak waktu untuk tidak terlambat.

 

Oh, persetan.

.

.

.

 

“Apa dadamu masih sakit?” Annie mengerutkan dahi. Itu adalah topik terkadaluarsa yang pernah didengarnya. Bahkan ia tidak menyangka seorang Kim Jongin akan menanyakan hal itu untuk keseribu kalinya semenjak mereka resmi berkenalan dua hari setelah kejadian memalukan itu.

 

Dan sekarang, 14 Januari, hampir dua bulan kejadian laknat itu terlewati, tiba-tiba saja sepulang kuliah saat mereka berpapasan di gerbang, Jongin mengangkat pertanyaan itu lagi tanpa pikir panjang.

 

“Kalau yang kau maksud karena jatuh di koridor waktu itu, tidak. Tapi kalau kejatuhan buku di perpus, tentu saja.”

 

Tidak ada yang mengejutkan, sebetulnya. Tapi dari cara sneakers Jongin mulai melambat saat mereka berjalan beriringan menjauhi gedung kampus, sudah jelas kalau pria itu heran. Terkejut? Entah. Annie juga tidak mengerti kenapa ia perlu memberitahukan kejadian-tertimpa-buku-di-perpus itu pada Jongin.

 

“Kapan?”

 

“Tadi pagi, sebelum jam kuliah Mr. Don.”

 

“Kau harusnya lebih hati-hati, Annie. Mau kubantu bawakan tasmu?”

 

Oh, betapa berlebihannya kapten muda ini.

 

Annie memoles senyum tipis, “Trims, tawarannya. Tapi kau tidak perlu repot-repot.”

 

“Kau juga,” si gadis menatap heran. Jongin menyambut sorot kehijauan itu; tubuh tidak berhadapan―hanya saling menolehkan kepala. Senyum lebar terpeta di wajah berpeluh, “Tidak perlu repot untuk memberikan air mineral. Trims. Itu hadiah yang berkesan.”

 

 

-fin.

[Fic ini pernah di post di EXO FanFiction dan pernah diikutsertakan dalam event ‘KAI BIRTHDAY PROJECT’ yang diadain di exoffi juga mueheee /norak lu ah/ /iya maap bwanq/

Kurang lebihnya, berminat review?^^

Dari yang baru masak nasi,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s