[EXO FANFICTION] PROM-DATE – Leavendouxr

145647498505

PROM-DATE – Leavendouxr

Scriptwriter: Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Jongin, Kate [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette
.

.

Siapa prom-datemu?

.

.

.

.

.

Prom akan dimulai pukul delapan, begitulah kata Christa Jones lewat telepon sore tadi. Dan saat jam masih betah menduduki angka tujuh tiga puluh, Kate Braginsky sudah siap dengan gaun panjang berwarna biru tua pilihan adiknya.

 

Tidak, sebetulnya bukan murni pilihan adiknya. Anak kelas dua sekolah menengah pertama itu hanya ikut-ikut memberi komentar dan langsung menyetujui gaun biru tua dari tiga gaun yang dipertanyakan.

Dan orang yang mencetuskan memilih-gaun-biru-tua itu berada tidak jauh darinya; menempati kursi belajarnya dengan sebungkus besar keripik tortila yang baru dibuka.

Kim Jongin menyunggingkan senyum diantara kunyahannya, berniat membuka suara tapi menunggu sampai tortilanya masuk melewati kerongkongan.

“Sudah kubilang, pilihanku memang tidak pernah gagal.”

Si sulung Braginsky itu mengangguk antusias, “Yeah, kuakui itu sekarang.”

“Bakat fesyenku memang sudah mendarah daging, Kate, kau salah baru mengakuinya sekarang.”

“Oke, oke, aku percaya itu.” Kate memungut anting-anting, mulai memasangnya di kedua telinga.

Ia melirik pantulan dirinya di cermin untuk kesejuta kalinya dan tidak bosan. Mana mungkin bosan kalau yang dilihatnya di permukaan sana jauh sekali dengan dirinya sehari-hari? Harus ia akui Jongin memang tidak bodoh urusan fesyen. Tapi kemudian alisnya mengerut heran. Jarum jam dindingnya sudah bergeser sedikit dari angka tiga puluh.

“Jongin, tunggu, kau ikut prom, ‘kan?”

“Yup.”

“Kenapa belum siap-siap?”

Gadis itu mengingat lagi, Jongin sudah berdiam di kamarnya dari jam enam dan tidak ada tanda-tanda ia akan menjauhkan bokongnya dari kursi belajar. Jongin memang sering datang hanya untuk merusuh atau menumpang makan kalau orangtuanya dinas di luar kota, tapi kali ini bukan masalah merusuh atau apapun.

“Memangnya prom mulai jam berapa?” ia bertanya, santai sekali, sembari menjejalkan lima keping tortila kedalam mulut.

“Jam delapan, astaga, ini sudah kurang lima belas menit lagi,” Kate menunjuk jamnya, “memangnya kau tidak ingin menjemput prom-datemu?”

Jongin tersedak. Kate kembali memainkan anting-antingnya tanpa sadar. Ia mematut dirinya di cermin, lupa untuk keberapakalinya. Dari cermin, Jongin terlihat gugup tanpa sebab. Mungkin karena pertanyaannya? Tidak ada yang salah dari pertanyaannya, memang, tapi Kate tidak tahu reaksi Jongin akan sebegitu berlebihan.

“Uhm,” pria itu menarik napas, “yeah, mungkin aku akan menjemputnya.”

Kate merasakan sentakan kecil di perutnya. Ia tersenyum dari cermin, “Wow, jadi kau betulan punya pasangan untuk prom.”

“Tentu saja. Kau pikir untuk apa aku datang ke prom sendirian?”

“Kau tidak memberitahuku.”

“Memangnya kau memberitahuku juga, kau akan datang dengan siapa? Dan oh, ya, mana pasanganmu? Dia tidak menjemput?”

Kate menghela napas. Jongin itu memang bodoh atau bagaimana? Christa berulangkali mengatakan bahwa Jongin punya ketertarikan yang sama dengannya tapi sampai sekarang si bodoh itu tidak pernah menunjukkan. Dan apa katanya tadi? Menjemput pasangan promnya?

Sial.

“Ada yang lebih menarik ketimbang pasangan-promku-akan-menjemput-atau-tidak,” gadis itu mengerling dari cermin, “siapa prom-datemu?”

Kate menunggu jawaban sambil menaikkan alisnya. Jongin tampak berpikir keras, sebelum jawaban mantap terdengar di antara mereka, “Emma. Emma Mogens.”

Kate tersenyum lebar, padahal hatinya mengerut kesal. Oh, tentu saja, tidak ada yang bisa menandingi pesona Emma Mogens, si ketua pemandu sorak yang jadi kandidat terkuat Ratu Prom malam ini. Sudah sejak seminggu lalu ratusan nama pria disandingkan untuk menjadi pasangan promnya, dan kali ini yang beruntung adalah si kapten futbol.

Kim Jongin (sialan).

.

.

.

.

.

Kate Braginsky itu gadis hipokrit. Kim Jongin sudah hafal betul dengan tingkahnya sejak sekolah dasar sampai sekolah menengah. Anak itu suka berpura-pura, apalagi kalau sudah ditambah senyum konyolnya. Sebetulnya Kate kurang menyukai prom atau acara-acara sejenisnya.

Sejujurnya, Jongin tidak pernah ingin datang ke prom. Rencana yang ia bangun matang-matang (ia akan pura-pura sakit saat malam prom lalu menghabiskan waktu di rumah Kate dengan mengeruk semua makanan atau maraton film dengan gadis itu sampai pagi karena ia sudah yakin sekali Kate tidak akan datang) mendadak gagal saat sehari sebelumnya, Kate memberitahu akan datang ke prom.

Oh, sial. Giginya jadi ngilu.

Apalagi Kate datang bukan dengannya. Dengan orang lain. ORANG LAIN.

Jongin masih ingat soal ia hampir meremukkan kaleng sodanya yang masih penuh saat Kate menyuarakan keinginan untuk datang. Dan tanpa pikir panjang, Jongin menghubungi Emma untuk memintanya jadi pasangan prom. Ini konyol sekali.

Dan melihat betapa cantiknya gadis itu dengan gaun pilihannya, makin membuat perasaan Jongin campur aduk. Antara rela-tidak-rela gadis pujaannya menggamit tangan pemuda lain menuju venue acara.

Jongin meringis. Ia sudah kembali dari rumah Kate, bahkan sudah mengenakan setelan formal berwarna abu-abu dan kini melajukan mobilnya cepat menuju rumah Emma.

Kate tidak memberitahukan siapa pasangannya dan itu yang membuat Jongin gatal sendiri untuk cepat-cepat datang ke prom. Jam di dasbor mobilnya sudah menunjuk pukul delapan saat ia sampai di depan rumah keluarga Mogens. Semoga Emma tidak mengomel soal keterlambatannya.

.

.

.

.

.

Seperti dugaannya, Emma tidak marah. Gadis itu malah menyambutnya dengan senyum super lebar. Jongin tidak menampik, Emma seperti jelmaan Dewi dengan gaun merah panjang dan riasan natural.

Jongin mungkin akan jatuh cinta dalam pandangan pertama. Tapi itu Jongin yang dulu. Jongin yang sekarang, sudah lebih dulu tergila-gila dengan Kate.

Mereka memasuki venue bersama. Acara sudah dimulai. Jongin melihat teman-temannya―Jongdae yang menggandeng Alexa, gadis keturunan Afro-Amerika yang sekelas dengan Jongin. Ada Kris dengan Eliz, sekertaris organisasi sekolahnya, dan Yixing bersama Nevaeh. Wow, hebat juga dia, bisa mengajak gadis paling cuek satu sekolah.

Dan, ya, tentu saja, ia menemukan Kate. Cukup mengejutkan melihatnya bersama rival macho Jongin, Park Chanyeol, sampai-sampai pemuda itu tidak sadar Emma sudah memanggilnya berulangkali.

Chanyeol mengenakan setelan yang warnanya hampir sama dengan gaun Kate, membuat mereka jadi pusat perhatian saking serasinya. Jongin mendapati dirinya kepanasan di antara sayup-sayup pendingin udara. Mantan atlet anggar itu memang selalu bisa jadi saingannya, dari popularitas sampai gadis. Sialan.

Fokusnya terhalang saat Emma sudah berdiri di hadapannya, memberikan segelas soda. Jongin menerima, mengulas senyum tampan. Saat ia menoleh lagi, Kate dan Chanyeol sudah enyah dari sana. Ia menghela napas. Jam sebelas masih sangat lama sampai prom berakhir.

.

.

.

.

.

Jongin mengintip sedikit arlojinya saat menemukan Kate berdiri di luar ruangan acara. Jam sepuluh lewat sedikit. Ia sudah tahu gelagat tidak nyaman dari gadis itu. Tungkainya mengayun, mendekat.

“Kenapa di luar?”

Kate tersentak, saat berbalik dan matanya menangkap sosok itu lagi, senyum tidak dapat tertahan, “Kau juga. Kenapa pergi? Pengumuman Raja dan Ratu Prom sebentar lagi, lho.”

Jongin terkekeh, “Ada banyak laki-laki yang lebih pantas untuk itu.”

“Kupikir sudah jelas, kau dan Emma yang terbaik malam ini. Kalian cocok sekali.”

“Di lihat dari manapun, kau dan si atlet anggar itu lebih serasi. Baju kalian berwarna sama. Siapapun mengira kalian janjian memakainya.”

Gadis itu tertawa, “Betul juga, sih.”

Jongin mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, “Mau pulang atau kembali ke dalam?”

“Kau tidak keberatan mengantarku pulang? Sebetulnya aku agak pusing. Sedikit.”

“Tentu saja,” ekspresi khawatir tersapu jelas di wajahnya, “aku tahu kau bukan tipe orang yang suka pesta. Kau biasanya akan pusing di tengah-tengah acara karena banyaknya orang dan suara yang berisik. Benar, ‘kan?”

“Jangan mengejek, sialan.”

Pemuda itu menahan tawa, “Oke, oke, sori.”

Jongin diam-diam bersyukur tidak memarkir mobil terlalu jauh. Ia membuka pintu mobilnya, membiarkan Kate masuk. Gadis itu menyalakan lagu dari dasbor setelah Jongin menyalakan mesin.

“Kupikir,” Jongin memulai, nadanya menggantung. Tidak cukup sulit membuat Kate menolehkan kepalanya pelan-pelan untuk menatap. Jongin mengemudi dengan santai, sesantai suaranya yang melanjutkan kalimat, “kupikir kau akan kembali dengan Chanyeol dan tidak pulang kerumah.”

“Apa maksudmu?”

“Hei, Kate, kau tidak pernah berpikir kalau prom itu bisa berakhir dengan sesuatu yang―”

“Astaga, apa yang kau pikirkan?”

“Ada masalah? Kau menyukai Chanyeol, ‘kan? Dan kupikir si jangkung itu juga menyukaimu. Dan sehabis prom, untuk dua orang yang saling menyukai, bisa berpotensi berakhir dengan one night stand atau bahkan yang lebih serius untuk itu. Kau―”

Kate beranjak cepat, menutup mulut Jongin dengan tangannya. Ia menarik napas, “Kau bicara apa, sialan?” gadis itu memijat pelipisnya kemudian, kembali menyandarkan punggungnya pada kepala kursi. “Jongin, kenapa kau begitu tolol, sih? Astaga.”

“Apa?”

“Christa bilang aku bodoh, tapi kau puluhan kali lebih bodoh.”

Jongin menginjak rem pelan-pelan, “Aku tidak mengerti maksudmu. Yeah, kuakui, aku memang bodoh di materi hitung-hitungan dan kau kadang payah di olahraga.”

“Bukan itu maksudku, ya Tuhan.” Kate menutup wajahnya sebentar, kemudian memandangi Jongin dari samping, “kau tahu kenapa aku ingin datang ke prom? Karena kau. Kau, Kim Jongin. Christa bilang kau pasti akan datang kalau aku datang.”

“Kau tidak pernah mengajakku?”

“Itulah salah satu kebodohanmu. Aku bilang padamu kalau aku akan datang dan aku tidak memberitahu tentang prom-dateku. Itu artinya aku mengajakmu, bodoh. Astaga, kupikir kau sudah mengerti waktu kau datang ke rumahku sore tadi dan ternyata kau punya pasangan prom yang lain.”

“Astaga, Kate, aku menelepon Emma sehari sebelum prom karena aku tahu kau tidak akan datang denganku.”

“Dan aku meminta Chanyeol menjadi prom-dateku lima menit setelah kau pergi dari rumahku. Dan dia setuju.”

Jongin menepikan mobilnya. Ia menunduk, tertawa kemudian. Tangannya menutupi wajah, memikirkan betapa bodoh mereka berdua. Ia menyusuri iris Kate, menggeleng tidak percaya, “Christa benar, kita bodoh.”

“Sangat bodoh.”

“Jadi, kau menyukaiku?”

“Kau, uh, menyukaiku juga?”

Mereka bertemu dalam satu ciuman singkat. Kate bahkan tidak yakin soal ini, tapi hembusan napas Jongin setelah mereka berpisah, sangat nyata di wajahnya.

“Mau kembali lagi ke acaranya? Tapi aku yang jadi pasanganmu dan kau jadi pasanganku, oke?”

.

.

.

-fin.

.

.

.

[Fic ini terinspirasi dari ficnya Mirror, Mirror On The Wall karya randomtuna13 wkwk soalnya gue suka banget semua karyanya terutama yg Destiel asdfghjkl. Gue suka sama cara nulisnya kak belindarimbi ini:3

Sorry for typos and mind to review?^^

Tertanda,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s