[JAMES BOND FANFICTION] THE DEFINITION – Leavendouxr

728806bbc6937a8632340f4ac06ac2e4

THE DEFINITION – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast: James Bond and Q

Genre: Romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

.

“Q dan James, dua orang yang selalu berbeda definisi terhadap sesuatu, begitupun dengan tindakannya.”

.

.

.

.

Q mematut wajahnya yang berantakan di depan cermin tanpa kedip. Sepuluh menitnya terbuang hanya untuk mengamati titik-titik jerawat di beberapa bagian pipi juga dahi, serta brewok tipis yang mulai muncul memenuhi dagu dan rahangnya.

Ah, wajahku jadi mirip James, ia berpikir tiba-tiba, mengusap dagunya dan menyibak rambut cokelatnya yang mulai memanjang sampai menutupi dahi. Pantas saja daerah sana begitu subur untuk tumbuhnya jerawat.

Omong-omong, James, Q bahkan tidak ingat lagi sudah berapa lama pria itu pergi dengan alasan pekerjaan dan hingga kini belum menampakkan wujudnya lagi. Tanpa telepon, tanpa chat apalagi videocall. Wilayah yang sekarang sedang dijelajahi James dengan tuntutan ekspedisi―entah apalah itu, Q tidak peduli―mungkin tidak ada akses sinyal yang mumpuni.

Pasrah dengan semua pikiran tentang orang terkasihnya yang tak kunjung pulang itu, Q memilih menarik laci dibawah kacanya, mengeluarkan foam dan alat cukur model baru yang seminggu lalu dibelinya dari minimarket terdekat.

Perlahan ia mengusapkan foam lembut pada permukaan rahang dan dagunya. Satu tangannya sudah siap dengan alat pencukur yang siap membabat habis bulu wajahnya, kalau saja ketukan pada pintunya tidak menggema begitu keras sampai terdengar ke kamar mandi.

Bola matanya menggeliat, pasti tukang koran lagi, pikirnya mantap. Ia tidak mengacuhkannya dan kembali mencukuri bulu dari jambang sampai dagu. Suara ketukan masih terdengar, kali ini makin tidak manusiawi.

Sialan.

Ia mengumpat, melangkah dengan kaki terhentak keras―benar-benar emosi karena kegiatan paginya terusik. Q bukan tipe orang yang akan terima jika ada yang membuat masalah pagi-pagi. Apalagi dia habis menggalau mengenai brewok, jerawat, rambutnya yang panjang juga sang kekasih yang tidak kunjung muncul ke hadapannya.

Oh, umur panjang.

Q terpaku di depan pintunya, hampir menyembur si tukang koran―serius, tadi ia mengira begitu―dengan kata kotor, tapi ia kembali mengatupkan bibirnya. Ia berdiri agak lama disana, masih dengan pisau cukur di tangan kanan dan tangan kiri yang menggenggam erat gagang pintu.

Matanya menyipit melihat pria dengan setelan jas kusut―wajahnya juga agak kusut, tapi ada senyum samar disana, berdiri konyol di depan pintunya. Tiba-tiba saja matanya melebar kaget, mundur beberapa langkah dengan raut wajah terkejut, antara dibuat-buat atau benar-benar asli.

Tangan kanannya―dengan masih memegang alat cukur itu teracung, menunjuk pria disana berulang-kali seperti baru menemukan perampok bank sentral, “Kau! Siapa kau?”

Dan seorang James Bond, hari ini, menganggap pacarnya itu sudah sinting.

James menarik sudut bibirnya, tersenyum jengkel dan masuk tanpa permisi.

Barangkali, empat bulan berada jauh dari apartemen kecil nan nyaman itu membuatnya lupa kalau Q lumayan menjaga kebersihan, apalagi kalau sudah menyangkut barang-barang kesayangan, seperti sekarang, kaki pemuda itu sudah siap menendang tulang kering James yang lupa melepas sepatu di depan pintu. Jadilah, sepatunya―yang kotor itu menginjak karpet berbulu tebal warna cokelat kesukaan sang kekasih.

“JAMES! Angkat kakimu, sialan!”

“Oh, maaf.”

Q menarik napas, menghembuskannya ragu-ragu. Ia sudah galau dan emosi di pagi hari, oh, ini agak buruk untuk kedepannya.

“Kau sudah mengingatku, eh?” goda pria itu, membuka kancing jasnya dan menyampirkannya pada kepala sofa. Ia sudah selesai melepas sepatunya, menyisahkan kaus kaki cokelat polkadot―pemberian Q, tentunya―dan menaikkan kakinya keatas sofa.

Q memandangnya agak lama, antara rindu dan kesal ingin memukulinya, tapi ia hanya diam dan berdiri di depan meja ruang tamu. Mata birunya mengamati pergerakan James yang seolah mencari kenyamanan di sofanya dengan mata terkatup. Namun semenit kemudian, iris biru James―warna yang hampir serupa seperti milik Q―balik memandangnya.

“Setidaknya bersihkan dulu wajahmu kalau ingin memandangku terus.” ucapnya, kemudian memejamkan mata lagi.

Q berdecih, kembali ke kamar mandi dengan grasak-grusuk dan menyelesaikan ritual jarang-jarangnya dengan cepat. Ia menggosok giginya, membasuh wajahnya dan mengganti bajunya segera. Ia memungut kacamatanya dari nakas dan menggunakannya lagi.

Begitu melongok ke arah ruang tamu, James sudah menggelepar dengan nyenyak disana. Maka ia memutuskan mengambil selimutnya dari kamar dan membawanya kepada James. Diselimutkannya seluruh tubuh pria itu, kemudian mengusap pipinya, agak kasar.

“Kau merepotkan. Kenapa tidak tidur di kamar saja, sih?” Q tetap menyuarakan kejengkelannya, meski sadar tidak akan mendapatkan jawaban. Ia tersenyum begitu telinganya menangkap dengkuran halus dari pria konyol yang bahkan tidak menanyakan kabarnya atau mengucapkan hai secara romantis di depan pintu setelah meninggalkannya selama berbulan-bulan.

Apakah James tidak rindu? Tiap kali ingat berapa lama pria itu meninggalkannya saja, Q sudah memastikan harinya akan penuh kegalauan.

Oh, barangkali memang definisi rindu mereka berbeda, lagi.

“Kau memang konyol.”

.

.

.

.

Q dan James, dua orang yang selalu berbeda definisi terhadap sesuatu, begitupun dengan tindakannya. Bila James menganggap tindakan dari definisi romantis adalah dengan memeluk pasangan dari belakang ketika sedang memasak di dapur, lalu menaruh dagunya di pundak dan mencuri ciuman singkat, maka Q rela menentangnya dengan satu alasan kuat;

Menganggu.

“Astaga, berhenti memelukku dan minggir, James. Kau membuatku―ugh.” Q memejamkan matanya jengkel begitu leher belakangnya menerima kecupan ringan dari James. Pemuda itu bergerak-gerak, berharap bisa melepaskan James yang menempel erat seperti cangkang kura-kura dari belakang tubuhnya.

“Oh, God, aku hampir mencampurkan susu kedalam omelet!”

“Hei, kaubilang ingin diperlakukan romantis olehku.” Q mencoba menjauhkan kepala James yang kini bersembunyi di perpotongan lehernya, sesekali menghembuskan napas panjang disana yang membuatnya kegelian.

“Tidak, James, selamanya definisi romantis kita selalu berbeda. Ingat itu.”

“Ah, ya, baiklah.” James mencuri satu ciuman yang lama dirindukannya, kemudian melepaskan diri dari Q. Ia menepuk pelan kepala dengan rambut gondrong itu, “cepat selesaikan. Aku sudah kelaparan.” dan beralih memukul-mukul kecil perutnya.

Q tidak bisa untuk tidak tersenyum melihat kelakuan James yang masih seperti bocah padahal rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban satu-dua. Dan melihat reaksi pacarnya yang datar saat memandang omelet, namun cepat-cepat menyuapkannya ke dalam mulut membuatnya berpikir kalau lagi-lagi mereka berbeda.

Berbeda, bagaimana Q mendefinisikan James, dan bagaimana James mendefinisikan dirinya sendiri, karena bagi Q, James selalu terlihat sebagai sosok kecil manja yang butuh perhatian ketimbang keyakinan pria itu sendiri bahwa dirinya sangat tangguh luar-dalam.

“Kapan terakhir kau makan dengan layak?” tanya Q disela sarapan mereka. Melihat James yang sudah dua kali menambah porsi sarapannya membuat kening mahasiswa tingkat akhir itu mengerut. Memang seingatnya James agak kurusan sekarang, tapi dia benar-benar tidak tahu jika pacarnya itu seperti orang tidak makan sebulan.

“Tentu saja aku makan dengan layak. Aku sedang ekspedisi, bukan terdampar.”

“Tapi kau kurusan. Dan makanmu banyak sekali.”

James menelan kunyahannya, meraih gelas berisi air dan menenggaknya sampai habis. Ia mengusap sudut bibirnya, menatap Q tanpa celah, “Karena masakanmu kali ini benar-benar enak. Biasanya asin.”

Q melempar serbetnya ke arah James, membuat pria itu menguarkan derai tawa singkat. Oh, betapa rindunya ia dengan tawa itu. Tapi lamunannya mendadak buyar saat James kembali mengetukkan sendoknya ke meja, “Q, aku tambah lagi, ya?”

.

.

.

.

Q terlonjak saat merasakan sesuatu merambat disela tangannya dan merengkuh pinggulnya erat. Lagi-lagi James menaruh kepalanya di bahu Q, menciumnya sesekali. Q menoleh, mencium pipi James sekilas dan menjauh. Dengan gerakan cepat ia membuka kemeja pria itu, yang membuat James melebarkan senyumnya dengan bayangan mesum yang melatarbelakangi.

“Apa ini aksi dari definisi rindumu, hm?” nadanya rendah sekali, jelas saja ingin menggoda Q. Namun reaksi Q selanjutnya yang menarik pria itu masuk kedalam kamar mandi kamarnya membuat James mengerutkan dahi.

“Jangan mesum, kau harus mandi dulu. Baumu seperti kerbau.” Q mendudukkan James di toilet duduknya yang tertutup, mengusap rambut halus yang juga memenuhi dagu dan rahang pria itu sebelum mengambil alat cukurnya. “Oh, James. Rambut di wajahmu bahkan lebih panjang dari rambutku.”

“Disana tidak ada pisau cukur, asal kautahu.”

“Baiklah.” kemudian Q menunduk, membubuhkan foam ke seluruh bagian bawah wajah pria itu. Jemarinya mengusap perlahan wajah James, wajah yang empat bulan ini absen dari harinya namun selalu hadir dalam pikiran dan mimpinya.

James mendongak, mencoba mencari keberadaan iris kebiruan yang kini sibuk sendiri mencukuri bulu di wajahnya. Ia sendiri lupa kapan terakhir Q bersikap manis seperti ini. Tapi seingatnya, membantunya bercukur tidak termasuk dalam daftar kelakuan romantis Q selama mereka menjalin hubungan.

Selesai dengan acara bercukur, Q beranjak dari tempatnya dan mengisi bathtube. James mengusap jejak air di wajahnya dengan tangan, memandang pantulan dirinya melalui cermin dan memuji hasil karya Q dengan senyuman lebar. Kemudian tanpa sadar Q sudah menyampirkan handuk di sekeliling leher pria itu.

“Mandilah, aku akan keluar.”

Namun tangan James mencengkeram pergelangan tangan kanannya. Q berbalik, memandang sepasang iris biru kelabu yang tidak pernah menghilang dari pikirannya. James memeluknya sejenak, saling menenggelamkan diri dalam kasih sayang yang baru dirasakan lagi sejak empat bulan lalu.

“Aku rindu padamu,” bisik Q, akhirnya. James bergumam, tapi tidak begitu jelas, ia hanya semakin menarik Q kedalam pelukannya.

“Kau mungkin akan mati karena rindu kalau aku pergi sampai setahun lebih.”

Q meninju perut James, membuat pelukan keduanya terlepas, “Tidak lucu, bodoh.” lagi-lagi ia hampir keluar, tapi lagi-lagi pria itu menghentikannya. James membawanya ke tengah kamar mandi, menyalakan shower sampai airnya terciprat kemana-mana.

“Apa kau gila? Bajuku jadi basah! Oh, kacamataku penuh air!”

“Tadi kau bilang rindu.”

“Tapi―”

James mendekat, membiarkan bibirnya menyapu bibir pemuda yang jauh lebih muda darinya itu. Ia bergerak lembut, dibawah siraman air dingin. Jemarinya mengusap rambut Q, menariknya mendekat. Sesaat setelah ciuman mereka terlepas, James hanya terus memperhatikan sekujur tubuh Q yang sudah basah kuyup.

Ia bahkan tidak berpikir panjang saat Q mengambil jemarinya, memperhatikannya lekat. Senyum tipis bermain di bibirnya, “Aku suka tanganmu. Begitu kecil, begitu rapuh dan kuat disaat bersamaan.” kemudian Q mengecupnya lama, mengusapkannya ke pipi.

“Cepatlah mandi, aku tunggu di luar.” Q berucap lembut, masih tidak meninggalkan pandangannya pada James yang ia yakini tengah berpikiran ‘iya-iya’ saat mencerna kalimat ‘aku tunggu diluar’ yang begitu ambigu.

“Jadi,” James menaikkan alisnya, “tindakan dari definisi romantis yang kau maksud adalah membantu pasanganmu bercukur, memuji tangannya dan ‘menunggu diluar’?” Q hanya tersenyum meski hatinya sedikit jengkel karena harus berganti baju lagi dan air pagi ini begitu dingin. Dan, oh, tebakannya tidak meleset.

Saat pemuda itu sampai di pintu, Q berbalik untuk merapatkannya, namun kembali berkata, “Iya, tentu saja. Tapi simpan dulu pikiran mesummu. Kita akan belanja bahan makanan dan kau bertugas membawakan semua kantung belanjaan. Kau membuatku repot berbelanja sendiri selama empat bulan ini.” dan suara hentakan pintu terdengar ngilu bagi James.

Oh, ya, benar. Definisi hidupnya dengan Q memang selalu berbeda. Sangat berbeda. Dan akan selalu berbeda.

.

.

.

.

-fin.

.

.

.

[Dafaq gue bikin apa ini asdfghjkl-_- ini fic lamaaaaaaaaaa banget dari gue liburan semester lalu /ha/ dan gak kepikiran bakal di publish tapi ya syudahlah. Sorry for typos and mind to review?^^

Dan pic bukan punya saya. Cuma dapet dari pinterest HUAHUA dan maap kalo di pic kesannya pedopil /guling2 bareng Q/

Dari yang cantik,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s