[EXO FANFICTION] GO-CLEAN – Leavendouxr

145686940345

GO-CLEAN – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Jongin, Ked [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

Jongin butuh tukang bersih-bersih kebun, sekarang juga.

.

.

.

.

Kim Jongin mengerjapkan matanya mendengar suara tawa anak-anak yang terasa dekat sekali di telinga. Saat matanya terbuka dan masih mencoba mengamati sekitar, segerombolan anak memandangnya terkejut, sejurus kemudian langsung menuruni gazebo.

 

“Ayo pergi, Paman Jongin sudah bangun!”

 

Shit.” Jongin mengumpat tanpa sadar, apalagi saat ia bangun, helai-helai rambutnya rontok di lengan. Ia melotot.

 

“Kami menggunting rambutmu yang gondrong dan menutup jerawatmu dengan tompel spidol, Paman! Kau harus berterimakasih, nanti. Dadah!”

 

Oh, tidak. Jongin mengambil ponsel di dekat kakinya, menyalakan fitur kamera dan bercermin lewat kamera depan. Rahangnya terbuka, nyaris jatuh melihat sebuah tompel besar sebanyak tiga buah menutupi wilayah-wilayah jerawatnya yang hampir kempis. Ya Tuhan, dari mana anak jelmaan iblis itu masuk ke kebun belakang rumahnya?

 

Pintu belakang kebunnya yang langsung bertemu dengan jalan pintas paling cepat menuju minimarket terdekat, tidak pernah dibiarkan terbuka kecuali kalau ada kebutuhan.

 

Begitu sadar, ia ingat tidak menutup rapat gerbang rumahnya saat memarkirkan mobil tadi. Tanpa ba bi bu, Jongin melompati gazebonya, mengumpulkan sampah bekas makanan―sial, tiga bungkus cemilannya juga ludes dan hanya menyisahkan remahan―dan berlari lewat samping, menuju kebun depan rumahnya.

 

Segala caci-makian sudah terkumpul di dalam otaknya, siap disemburkan pada sekumpulan anak badung yang dengan kurang ajar memasuki lahan pribadinya dan sekarang membuat kebunnya babak belur. Napasnya naik-turun, matanya memerah menahan emosi.

 

Tenang, Jongin, mereka hanya anak kecil.

 

“Astaga, Tuhanku!” ia memilih berteriak ketimbang mendatangi rumah anak-anak itu satu per satu untuk menarik telinga mereka. Mumpung orangtua mereka belum pulang bekerja, ia bisa menyiksa para berandalan kecil itu. Tapi ia berpikir lagi untuk tidak berurusan dengan komnas perlindungan anak dengan dalih kekerasan pada anak di bawah umur.

 

Ia jelas tidak mau titel sarjana Strata Duanya tercoreng dengan sebutan kriminal.

 

Tanaman bunga yang diurusnya sepanjang waktu―ibunya suka sekali dengan bunga-bunga, dan beliau bisa mengoceh dari pagi sampai paginya lagi kalau Jongin ketahuan tidak becus mengurus tanaman―sudah belok kesana-kemari. Astaga, apa yang dilakukan anak-anak itu, ha?

 

Ia baru sadar pohon mawarnya yang bergerombol sudah hampir sengklek. Diam-diam ia menyumpahi kaki salah satu dari anak-anak itu tertancap duri mawar sampai tidak bisa jalan. Kalau bisa malah semuanya saja, supaya tidak perlu mengacau di rumahnya.

 

Bukan hanya tanaman, perkakas yang ia simpan di belakang semak juga sudah bercecer seperti limbah pecahan beling. Daun-daun dan bunga bogenvil sudah berserakan di bawah pagar kebun, jeruk nipis hasil request ibunya beberapa waktu lalu sudah bergelinding di dekat kakinya. Dan entah kekacauan apa lagi yang terjadi.

 

Dan, oh, dia belum sempat mengecek kebun belakang rumahnya juga.

 

Jongin jadi berpikir, apakah ia tidur seperti orang mati? Sampai tidak sadar sekelompok iblis kecil itu sudah menjajah dan menghancurkan tamannya, menggunting rambutnya, mencoret mukanya―Jongin baru sadar hal ini saat empat orang gadis berjalan melewati rumahnya dan melihat ke arahnya yang tengah merapatkan gerbang, sambil terkikik.

 

Dammit.

.

.

.

.

.

Seusai membersihkan wajahnya―meski bercak-bercak kehitaman itu tidak mau hilang sepenuhnya, dan ia merasa sedikit nyeri pada jerawatnya yang hampir kering, padahal kemarin tidak begitu―Jongin menyambar ponsel. Untung saja anak-anak itu tidak menyemplungkan ponselnya ke kolam renang.

 

Ia mengetik nomor tujuan dan menunggu panggilannya diterima.

 

“Oi, Kris?”

 

‘Jongin? Ada apa?’

 

“Kau bisa membantuku?”

 

‘Membantu apa?’

 

“Rumahku―maksudku, kebun di rumahku,” ia memijat dahinya sebentar, “para hama kecil itu mengacaukan kebunku. Kau bisa bantu aku mengurusnya?”

 

‘Hama kecil? Maksudmu Taeyong dan gengnya?’

 

“Siapa lagi?”

 

‘Bah, memangnya aku apa, disuruh membereskan kebun.’

 

“Kau arsitek lanskap, ‘kan? Sekalian kau atur ulang kebunku. Ibuku bisa mati berdiri kalau lihat kebunku hancur lebur begitu. Aku juga tidak mungkin mengurusnya sendiri.”

 

Kekehan di seberang telepon membuatnya menekuk alis makin dalam, ‘Masih banyak yang harus kuurus ketimbang membetulkan kebunmu. Kau pesan saja tukang kebun via online. Sudah banyak sekarang.’

 

“Memangnya ada?”

 

‘Ada, sih, tapi namanya bukan tukang kebun. Sejenis tukang bersih-bersih rumah, begitulah, kau bisa minta bantuannya. Tinggal unduh aplikasinya lewat ponselmu dan beres.’

 

“Otakmu kadang-kadang oke juga, ya.”

 

‘Sialan.’

 

Jongin mematikan sambungan dan mengikuti omongan Kris. Ia mencari informasi seputar tukang bersih-bersih via online dan mengunduh aplikasinya cepat. Ia menelepon operatornya, memberitahu keluhannya. Seseorang di seberang telepon memintanya menunggu selama beberapa menit dan karyawan mereka akan datang.

 

Jongin menarik napas. Kalau saja dia bisa menculik anak-anak itu dan menenggelamkan mereka di Samudera Hindia.

.

.

.

.

.

15 menit kemudian bel rumahnya di tekan seseorang. Jongin melesat keluar, membuka pintu. Sulit sekali untuk menutupi rasa terkejut saat yang dilihatnya di depan mata jauh sekali dengan definisi tukang bersih-bersih yang sempat bercokol di otaknya.
Tukang bersih-bersih itu memang mengenakan seragam berlogo aplikasi yang tadi diunduhnya, tapi orangnya itu, lho, Jongin tidak percaya yang berdiri di hadapannya adalah salah satu kaum hawa berkulit putih khas orang-orang Hungaria dengan rambut di cepol tinggi yang menyisahkan sedikit helaiannya di kedua sisi kepala.

 

Ya Tuhan.

 

Ia berkedip. Dua kali.

 

“Apa ini rumah Tuan Kim Jongin?”

 

Jongin tergagap, “I-iya, benar.” ia membuka lebih lebar pintu rumahnya, “kau orang yang akan membantuku beres-beres rumah, ‘kan?”

 

“Tentu saja.” Jongin menyadari ada tatapan remeh dari si gadis. Ia maklum, rambutnya habis di gunting mencang-mencong dan noda spidol belum hilang sepenuhnya dari wajah gantengnya.

 

“Uh, sebetulnya bukan rumahku yang butuh pembersihan, tapi kebunku. Yeah, kebunku.”

 

Alisnya naik sedikit, “Aku bukan tukang kebun.”

 

“Aku tahu, tapi kaubisa membantuku untuk membereskan perkakasnya saja? Kau harus lihat kebunku. Bak diacak Frank.”

 

Gadis itu menahan tawa. Jongin membawanya keluar.

 

“Memangnya kau tidak lihat kebunku waktu datang?”

 

“Aku lihat. Tapi kupikir, mengurus kebun bukan tugasku.”

 

Jongin melirik kebunnya, sejurus kemudian merentangkan tangan, tidak tahu harus bagaimana mendeskripsikan tamannya. Ia mengamati ekspresi gadis itu. Sejauh ini hanya kerut di dahinya yang berubah.

 

“Wow. Kau habis pesta taman?”

 

“Anak tetanggaku,” tangannya menekan pelipis, “mereka memang, astaga, ini bukan kali pertama.”

 

“Tidak ada niatan menculik lalu di bawa ke pasar gelap?”

 

“Tidak ada yang ingin membeli organ tubuh mereka.” pria itu menahan senyum, “Omong-omong, siapa namamu?”

 

Gadis itu hanya melirik sedikit, “Ked. Kedrick Orzsebet.” kemudian Ked mengambil sapu lidi yang bersandar di tembok, mulai menyapu daun-daun besar yang berceceran di sekitar kaki. Kelopak-kelopak bunga rontok sembarangan dan tanah tercungkil tidak beraturan.

 

Jongin mengambil pengki, menaruhnya di dekat Ked. Pria itu mengumpulkan perkakas-perkakas, menumpuknya di kotak kecil dekat pohon bogenvil.

 

“Jadi, bagaimana anak tetanggamu bisa mengacau begini?”

 

Jongin mengangkat kepala, “Aku lupa menutup gerbang dan mereka masuk begitu saja,” badannya menegak, “lihat? Mereka menggambar tompel besar di atas jerawatku dan menggunting rambutku sampai grepes sana-sini.” Jongin sudah punya catatan batin untuk pergi ke tukang pangkas rambut habis ini.

 

“Apa mereka iblis kecil?”

 

“Alien.” Ked tertawa kecil, tangannya masih luwes memutari tali ke sekeliling pohon bunga yang belok. “Geng NCT itu, ya ampun, rasanya ingin kubuang ke laut saja.”

 

NCT?

 

Nakal-Cengeng-Tengil. Aku yang menamainya. Dan pentolannya, Taeyong, masih kecil saja sudah ubanan. Rambutnya putih semua.”

 

“Kau begitu tertekan.”

 

“Sangat.” Jongin mengoper gunting rumput dalam genggamannya, “Kalau sudah besar mereka pasti menyusahkan Presiden beserta jajarannya.”

 

Ked mengambil guntingnya, menahan tawa. Jongin melirik gadis itu, “Aku baru lihat seorang wanita bekerja beginian.”

 

“Untuk tambahan biaya kuliah, selama tidak menyalahi aturan.”

 

Senyum tipis terpoles, “Kau benar.”

 

Mereka melanjutkan bersih-bersih. Jam satu lebih sedikit, keduanya sudah menyelesaikan kebun depan dan belakang.

 

(Bersyukurnya kebun belakang tidak separah depan)

 

Jongin memungut kunci mobilnya dari nakas, “Mau makan siang bersama?”

 

Ked memandangnya ragu, “Ini tidak termasuk keluhanmu tadi, ‘kan? Lagipula aku bawa motor.”

 

“Tinggal saja motormu disini dulu. Ayolah, kapan lagi di traktir orang? Sebagai tanda terimakasih sudah membantu membereskan kekacauan ini, lagipula sudah jam makan siang.”

 

Berbekal desakan dengan segala macam alusan, Ked akhirnya mengangguk meski agak ragu. Jongin menyambutnya sukacita, bahkan membukakan pintu mobil. Sebelum menyalakan mesin mobil, ia mengeluarkan ponsel.

 

“Bisa minta nomormu sekalian? Yah, hitung-hitung kalau rumahku diserang Bangsa Frank lagi, aku langsung meneleponmu.”

 

Ked menatap. Lagi, matanya penuh selidik.

 

“Aku tidak akan mengirim sms konyol kepadamu. Tenang saja.”

 

Dan saat bibir gadis itu menyebutkan digit nomor, Jongin langsung bersyukur atas kenakalan Taeyong cs. Setidaknya dia punya anak tetangga iblis yang merangkap cupid tengah hari bolong.

 

Kalau begini ceritanya, tidak masalah rumahnya digempur lagi.

.

.

.

-fin.

.

.

.

.

[*Bangsa Frank adalah salah satu suku bangsa Jermanik yang membentuk bangsa Jerman.

Nemu ide pas mau pesen go-food eh malah kepencet go-clean wkwk gue paham ini gajelas btw. Berminat review, gais?^^

Dari yang cantiks,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s