[EXO FANFICTION] QUINN – Leavendouxr

142134598064

QUINN – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Lay, Quinn [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

Yixing punya satu mahasiswi. Namanya Quinn.

.

.

.

.

 

Quinn Church itu memang tidak bisa ditebak. Dari mulai isi kepala, suasana hati sampai ucapan sulit sekali di prediksi. Seperti pertandingan sepak bola dunia saja. Wajahnya selalu tertekuk, sepertinya kaku sekali untuk menarik senyum barang sedetik.

 

Setahun belakangan ini Zhang Yixing mengenalnya sebagai sosok yang agak menyebalkan. Omongannya itu, lho, minta diajarkan privat cara memperhalus kalimat dan tambahan basa-basi. Sebagai dosen Ilmu Sosiologi yang seumur hidup berjibaku dengan hubungan individu dengan kelompok, entah sudah berapa kali Yixing merasa tergugah untuk ‘memperbaiki’ Quinn.

 

Gadis itu cantiknya bukan main, pernah jadi anggota pemandu sorak sebelum kisah kelam masa lalu orangtuanya terungkap dan ia terdepak dari kelompok secara sepihak. Tahu sendirilah, namanya perempuan hobi bergosip, sampai telinga laki-laki saja seperti menempel di bibirnya terus-menerus.

 

Dari primadona, menjadi gadis buangan. Walaupun dulu, dulu sekali gadis itu sering bolos saat jam Sosiologi atau bicaranya main asal tabrak saja, tapi sulit sekali untuk mengucilkan gadis itu seperti yang lainnya.

 

Diam-diam Yixing suka mencuri dengar gosip-gosip beredar tentang Quinn. Antara percaya atau tidak. Tapi beberapa bulan lalu ia berhasil mendapatkan seorang sumber akurat terpercaya yang seringkali membocorkan satu-dua rahasia Quinn atau cerita detil kehidupannya yang tidak diketahui Yixing.

 

Seperti cerita pribadi yang mustahil gadis itu ceritakan kepada orang lain―jangankan cerita pribadi, disuruh mendeskripsikan dirinya sendiri saja seperti harus naik-turun gunung, mendaki batuan terjal sampai bergulingan di jurang. Narasumber itu adalah bekas tetangga yang tinggal tepat disebelah rumah Quinn.

 

Ayahnya terjerumus organisasi pemujaan setan yang berakhir bunuh diri dan ibunya sakit jiwa. Quinn menaruhnya di rumah sakit jiwa dan ia hidup seorang diri dalam apartemen luas yang jaraknya lumayan dekat dari universitas. Belakangan juga diketahui gadis itu bekerja paruh baya di toko kain milih keluarga Thalia Curtis―si narasumber tadi.

 

Tapi Thalia tidak bisa disebut teman dekat. Mereka berbeda jurusan dan Thalia adalah mahasiswi tingkat akhir. Quinn biasanya selalu makan siang sendiri, lalu pulang sendiri dengan naik bus.

 

Hari ini juga sama. Yixing menemukannya tengah berjalan mendekati halte. Ia memutar stir mobilnya ke arah halte, lalu berhenti tepat di depan gadis itu. Quinn duduk diam, menunggu busnya. Yixing membuka kaca mobil, yakin seratus persen kalau Quinn melihatnya tapi gadis itu memilih untuk tidak mengacuhkannya.

 

Ia berdecak, mendorong keluar pintu mobilnya dan menghampiri Quinn. Kali ini gadis itu sibuk sendiri dengan ponselnya.

 

“Church,” pelan, Yixing memanggil.

 

“Mobilmu menghalangi busku, Sir.”

 

Oh, God.

 

Yixing meraih tangan kurusnya, tidak berniat menarik, hanya ingin membawanya masuk kedalam mobil. Ia berbisik diantara helaian surai hitam panjang yang jatuh menutupi telinga, “Kumohon, ikut saja dan jangan membantah.”

 

Quinn diam. Ia masuk ke mobil dan Yixing enyah dari sana setelah dapat serangan klakson tanpa henti karena memarkir kendaraan sembarangan. Mereka tidak ada yang mulai pembicaraan. Dosen muda itu memilih memutar lagu tenang dari dasbor mobilnya.

 

“Kudengar kau berkelahi lagi dengan Marie,” tangannya membelokkan sedikit stir mobil, “apa benar?”

 

“Ya.”

 

“Kenapa?”

 

Yixing tidak berpikir ini sia-sia. Ia sudah mencoba mendapatkan waktu gadis itu selama setahun, menjadi ‘temannya’. Walaupun Quinn selalu menghindar dengan pertanyaan pribadi, tapi paling tidak Quinn masih mau diajak makan siang bersama atau diantar pulang. Pun perjuangannya tidak segampang menyentil kelereng. Butuh waktu, waktu, waktu, tapi sayangnya Yixing tidak pernah bosan.

 

Karena Quinn menantang untuk ditebak. Gadis itu menantang untuk dimengerti, untuk dibuat bicara.

 

“Oke, aku paham kalau kau tidak ingin bi―”

 

“Wanita jalang itu menyebut ibuku bersetubuh dengan pemuja Lucifer. Ia bilang aku anak setan dan pembunuhan di komplek rumahku dulu karena ayahku mencari tumbal.”

 

Yixing menggeleng pelan. Ini sudah keterlaluan.

 

Thalia pernah cerita tentang kepribadian Quinn. Gadis itu penyayang, tidak seburuk sekarang. Baru-baru ini ia jadi berpikir untuk tidak terlalu memaksa gadis itu merubah dirinya, karena dia adalah apa yang dia pikirkan. Lingkungan yang merubahnya, bukan ia yang merubah lingkungannya. Yixing juga jadi tahan dengan semua sarkasme gadis itu dari mulai level standar sampai level sakit hati.

 

Yixing sengaja mengajaknya berputar-putar, tidak langsung mengantarnya pulang. Ia mengerem pelan saat countdown lampu lalu lintas sudah berada di angka lima.

 

“Lalu kau langsung menampar wajahnya?”

 

Quinn memandang keluar jendela. Sejenak ia menjadi sangat sulit diartikan. Menantang untuk ditaklukkan.

 

“…. tidak.” ia berdehem sebentar, “aku mengatakan bahwa kakeknya adalah seorang pendeta Katolik Roma yang begitu taat dan di segani tapi meninggal di ranjang rumah bordil. Dia marah dan menarik rambutku, padahal dia bodoh. Aku diam karena tuduhannya salah, dan dia marah karena omonganku adalah benar. Dia panik. Dia takut semua orang tahu tentang keluarganya yang bobrok.”

 

See? Gadis itu hidup dengan caranya sendiri. Ia tenang, sekalinya bicara bisa menyulut amarah. Tapi sialnya, semua yang dikatakan Quinn adalah benar.

 

Yixing berhenti di depan apartemen gadis itu. Mereka tidak langsung keluar. Lagu Remember Me This Way terputar kemudian. Yixing menoleh untuk menemukan iris Quinn yang setenang laut, “Aku mencoba mengerti tentangmu selama ini. Kau begitu rapuh―kau tidak mengakui itu. Aku mungkin hanya sekedar dosenmu, aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya orang lain, tapi kupikir kau bisa percaya padaku seperti saat kau percaya kalau aku akan mengantarmu pulang dengan selamat.”

 

Tanpa di duganya, Quinn menyambut pandangan. Yixing bahkan bisa menemukan refleksinya disana.

 

“Kupikir mereka sudah keterlaluan. Dan ini masih tahun keduamu disana.”

 

“Yeah, aku paham, Sir. Mereka tidak mengerti dan tidak bisa menerima masa laluku. Dan semuanya pergi. Semua teman-temanku.”

 

“Barangkali hanya aku yang bisa menerima sikap menyebalkan dan masa lalumu.”

 

Alis gadis itu mengerut, “Sir?”

 

“Masa dinasku dipindahkan ke New Haven, Connecticut dan aku akan mengajar di Universitas New Haven. Kupikir, pilihan untuk tinggal di tempat yang baru bukanlah hal buruk,” ia meraih segenggam rambut gadis itu dan menyembunyikannya di belakang telinga, cengiran lebar terpeta jelas, “Quinn, menikah denganku saja, ya. Ikut denganku, ajak ibumu dan kita tinggal disana, setuju?”

.

.

.
-fin.

.

.

.

[HAHAHA JUDUL APAAN TUH? /dijorokin/ Sumpah ya gue paling gabisa nyari judul yang pas wkwkwk jatohnya malah gitu akh-_-

Berminat review?^^

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s