[EXO FANFICTION] RETROUVAILLES – Leavendouxr

123645957620

 

RETROUVAILLES – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Jongin, Lane [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette
.

.

.

Langit, laut dan matanya berwarna biru.

.

.

.

.

Kakinya tengah menapaki pasir jernih yang selembut bedak bayi saat menemukan sosok Kim Jongin. Berdiri, bertelanjang kaki sembari tertawa kecil saat air yang menyapu permukaan ikut membasahi ujung jemarinya. Seolah memiliki mata lain di belakang telinga, pria berkulit agak gelap itu menolehkan kepalanya pelan-pelan.

 

Birunya tidak hanya menyapu laut dan langit, tapi menyapu oniks yang tampak lebih cerah dari biasanya. Belum lagi cengiran kekanakan yang begitu lebar, mengingatkannya pada masa lalu. Kim Jongin adalah bagian dari masa lalunya. Masa lalu dimana rok masih diatas lutut dengan almamater yang dikancingkan, juga soal contek-mencontek jawaban ulangan dan salin-menyalin tugas.

 

Lambaian tangan, juga tubuh yang makin mendekat menyadarkannya. Sayup-sayup lantunan Butterfly Kisses bersahutan dengan debum kecil ombak yang menabrak batu karang. Jongin sudah berdiri di hadapannya.

 

“Hai, Lane.”

 

Lane Zoe mengerjap, “Jongin.”

 

“Lama tidak bertemu, ya.” pria itu menatap. Hanya ada dua pilihan bagi Lane Zoe; balas menatap matanya yang seumpama kain beledu atau meminum vodka martini yang sejak tadi dibawanya menyusuri garis pantai.

 

Dan si gadis mengambil pilihan kedua. Menyesap anggun minumannya sampai cocktail picknya tidak bergeser, kemudian beralih memaku pandang pada hamparan biru muda. Baik langit atau laut.

 

“Aku tidak tahu kau datang.”

 

Jongin tersenyum samar, “Ini mendadak sekali. Aku juga tidak tahu kalau Tao menikah hari ini. Orang itu memang payah, barangkali ia lupa mengirim undangan kepadaku.”

 

“Hidupmu nomaden, mungkin dia bingung mau mengirim undangan kemana.”

 

Kekehan boy-ish itu terdengar berbeda, “Betul juga, sih. Aku baru tahu tadi, lho, kalau ternyata nenekku bersaudara dengan neneknya Tao, jadi sebetulnya kita masih terikat saudara jauh. Dia sepupu jauhku tapi kita tidak tahu sampai sebesar ini. Oh, ya ampun.”

 

“Tapi dia tidak dekat denganmu, ya.”

 

“Kita tidak pernah satu kelas, tapi satu tim basket. Dia lebih dekat denganmu, sepertinya. Buktinya kau jadi repot begini di acaranya.”

 

Lane mengangguk. “Dia memintaku mengurus beberapa hal. Katanya, lebih bermanfaat daripada aku duduk diam menyelesaikan naskah novel yang membuat tulangku skoliosis.” Jongin tertawa menanggapinya.

 

Gadis itu mengambil langkah dan secara tidak sadar mengisyaratkan Jongin untuk mengikutinya. Ia menaruh gelasnya yang sudah kosong di salah satu meja.

 

“Tapi serius, Tao hebat juga memilih tempat resepsi. Lombok itu indah sekali, ya. Aku baru pertamakali kesini, lho. Panas, sih, tapi hebat. Pantainya keren. Aku sempat browsing tentang pantai-pantai di Lombok, wah, rasanya jadi ingin mendatangi semuanya.”

 

Gadis itu tersenyum kecil, mengambil mojito dari meja minuman, “Yeah, perbedaan suhunya lumayan dari Selandia Baru, tapi tidak masalah. Ini keren. Pantai Tanjung Aan benar-benar keren.”

 

Jongin mengadah untuk mengamati keramaian. Tao masih menyalami tamu-tamu, sementara istrinya sibuk berfoto bersama kerabat. Lane mengamati gerakan Jongin yang agak meleset. Barangkali pria itu masih jet lag, maka ia berisiatif mengambilkan soda.

 

“Trims.” Jongin menerima gelas berisi soda dari tangan Lane dengan suka cita. Ia meminumnya sedikit. Agaknya lebih baik.

 

“Kupikir kau masih jet lag.”

 

“Yeah, mungkin. Aku terbang dari Teheran, omong-omong.”

 

“Terlalu jauh.” Lane menyahut, suaranya teredam riuh.

 

Pria itu menaruh gelasnya, menghadap Lane yang mulai terbawa suasana saat Honeymoon Avenue diputar.

 

“Aku berencana menginap disini sampai lusa. Aku penasaran, ingin mencoba mendatangi pantai-pantai indah lainnya.”

 

“Berhenti menjadi sok petualang begitu, Jongin. Nanti kulitmu makin hitam terbakar matahari.”

 

Jongin meringis ngilu. Gurauannya memang kadang bikin sakit hati.

 

“Kau jahat sekali,” ia merajuk, Lane hanya menarik tawa kecil. Tapi matanya kembali berbinar, “Kudengar taman bawah lautnya bagus, jadi ingin lihat-lihat. Omong-omong, kau tertarik diving?”

 

“Tidak juga.”

 

“Bagaimana dengan surfing? Kau suka surfing?”

 

“Tidak.”

 

“Voli pantai?”

 

Pass.”

 

Rugby?”

 

“Kau mengejekku, hitam?”

 

Jongin tertawa keras. Sangat keras, sampai memegangi perutnya. Lane bahkan tidak mengerti apa yang harus ditertawakan. Tapi si hitam menyebalkan itu tetap tertawa seperti orang sinting. Lane meminum koktailnya, masa bodoh lah.

 

“Oke, oke, maaf. Tidak, bukan begitu maksudku.”

 

Lane mengedikkan bahu.

 

“Kau tahu, pantai di Lombok terkenal dengan matahari terbenam. Aku melihat banyak sekali review di media tentang Lombok di sore hari, dan mereka bilang, penampakan matahari terbenam adalah salah satu yang tidak boleh dilewatkan.” Jongin menggerakkan kepalanya hanya untuk memastikan gadis itu mendengarkannya, sebelum melanjutkan, “mau duduk disini sampai menunggu matahari terbenam? Waktunya sebentar lagi.”

 

“Nanti saja. Aku harus mengurus beberapa keperluan lagi, baru bisa bebas.”

 

“Baiklah. Tapi nanti kalau sudah selesai, kau harus mau duduk disini bersamaku melihat matahari terbenam. Akan sangat menyenangkan, melihat laut, langit dan matamu yang biru sebelum matahari menghilang dari balik horison.”

 

.

.

-fin.

.

.

.

[Ha! Gue bikin apa ini? Wkwk gue lagi cinta banget sama Lombok dan sebenernya ini fic lama. Udah pernah di publish di line yauda ya gapapa;)

Mind to review, guyz?^^

Dari yang cantik,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s