[WINNER FANFICTION] KAIROS – Leavendouxr

14567929377

KAIROS – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): WINNER’s Seungyoon, Ashley [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

Apa, kapan, dan bagaimana Seungyoon bisa menyukainya―atau apa, kapan, dan bagaimana Seungyoon harus menyatakan perasaannya?

.

.

.

.

i.

Kang Seungyoon mengintip melalui celah jendela kamarnya. Song Mino masuk kemudian tanpa permisi dan langsung menghempaskan tubuh besarnya ke atas kasur sampai berderit. Seungyoon tidak mengalihkan fokus. Mino melempar siulan, gemar sekali menggoda sepupunya yang masih berdiri dari balik jendela dengan muka memerah.

 

“Hei, man, hanya berani melihatnya dari jauh? Tidak ada keinginan mendatangi rumahnya cuma untuk basa-basi; oh, hey, bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu, ya. Hm?”

 

Seungyoon mendelik, “Kau bicara apa?”

 

Si jangkung itu bergelung ke sisi kasur yang lain sebelum beringsut bangun, “Serius, kawan. Mau sampai kapan kau pura-pura bodoh begini? Kalau suka, ya, bilang. Kau terlihat seperti orang cacingan, atau kebelet buang air kalau dia datang dari Berlin.”

 

“Analogimu sungguh tidak sopan.”

 

“Sori, sori. Yah, aku cuma ingin memberi solusi, sih, supaya kalau nanti kau bangun tidur, kasurmu tidak basah.”

 

“Demi Tuhan itu menjijikkan.”

 

Mino tertawa keras. “Oh, well, dia akan disini sampai lima hari kedepan, seperti biasanya. Pastikan kau tidak membuang-buang waktumu, dear.”

.

.

.

.

.

 

ii.

 

Kang Seungyoon, sembilan belas tahun, naksir Ashley Bradbury.

 

Walaupun sebetulnya tidak ada yang berubah drastis―hanya saja gadis itu terlihat lebih putih dan rambutnya di cat warna teal. Makin cantik, kalau Seungyoon mau jujur―tapi rasanya selalu ada yang berbeda setiap kali Ashley datang. Barangkali dia lebih bahagia dari sebelumnya.

 

Mereka sempat bertukar sapa dan mengobrol lewat chat sehari setelah kedatangannya. Seungyoon tersenyum sepanjang malam tanpa sadar, atau kadang ia suka mengintip ke arah rumah Ashley di seberang jendela kamarnya sambil berpikir apa yang tengah dilakukan gadis itu.

 

Rasanya memang betulan konyol, sih, mereka sudah kenal sejak taman kanak-kanak, dua belas tahun bersama dari sekolah dasar sampai sekolah menengah, tapi Ashley memilih menyelesaikan strata satunya di Berlin. Jauh sekali.

 

Gadis itu akan pulang setiap dua bulan sekali, menginap lima hari di rumahnya. Kadang dia meminta Seungyoon mengantarkannya ke perpustakaan kota atau berbelanja keperluan yang berakhir makan berdua di restoran berbeda setiap pertemuan.

 

Mino seringkali bertanya apa, kapan, bagaimana Seungyoon bisa menyukai Ashley―dan sekarang-sekarang ini pertanyaannya sudah beralih lebih menyebalkan; seputar apa, kapan, bagaimana Seungyoon harus menyatakan perasaannya.

 

Dan itu yang sebenarnya belum terjawab.

 

Ia bingung bagaimana bisa dimulai. Barangkali saat mereka masih taman kanak-kanak? Barangkali saat Ashley menungguinya menangis seharian penuh karena ayah dan ibunya bercerai? Atau saat gadis itu memutuskan pergi? Atau saat gadis itu kembali?

.

.

.

.

.

iii.

 

Kang Seungyoon, sembilan belas tahun, naksir Ashley Bradbury.

 

Rahasia yang semula hanya ia dan Tuhan yang tahu, kini sudah membleber seperti lava gunung berapi hanya dalam hitungan detik setelah Mino―dengan kuping super tajam itu―mendengar racauannya memanggil nama sang gadis pujaan dalam tidur siang habis tanding futsal.

 

Dan BOOM!

 

Efeknya sangat tidak baik untuk masa depan.

 

Seungyoon harus kuat hati menahan segala godaan dari mulut-mulut iblis teman-teman sekumpulannya, dan yang paling parah adalah Mino.

 

Pria itu memandang geli. Kali ini bukan gadis semi bugil di majalah Cosmopolitan yang menjadi fokusnya lagi. Ia menahan tawa, tapi lima detik kemudian tidak sanggup dan mengurai tawanya keras-keras. Bayangan di permukaan kaca menangkap objek lain yang bersungut. Mino masih tertawa.

 

“Apa yang kau tertawakan, Alis?”

 

Seungyoon menunjukkan ketidaksukaannya. Ia melotot dari seberang kaca.

 

“Tidak, tidak, maksudku―hei, kau cuma ingin mengantarnya ke perpustakaan kota. Tidak perlu formal begitu. Dan lagi, kau sudah terlalu lama berdiri disana. Kacamu sebentar lagi retak.”

 

“Sialan.”

 

Seungyoon kembali menyusuri garis kemeja biru tuanya, memastikannya rapih sesuai keinginan. Ia mengendus lengannya, sudah harum menyengat hasil campuran parfum dan pengharum pakaian dari binatu.

 

Tapi si tukang gibah itu sibuk mengomentari baunya bikin pusing dan bla bla bla.

 

“Percuma saja kau kelihatan keren kalau nyalimu hanya sebesar gigi susuku. Tidak ada apa-apanya,” Seungyoon mendengus, menolak mentah-mentah argumen. Mino melanjutkan, “bah, jangan menyepelekan begitu. Tidak tahu, ‘kan, bisa saja Nona Ashley Cadbury itu―”

 

“Bradbury, astaga, namanya Bradbury, bukan Cadbury.”

 

Cengir lebar itu muncul kemudian, “―ups, sori. Iya, maksudku itu, yeah, tidak ada yang tahu, ‘kan, kalau misalnya dia sudah punya pacar di Berlin akibat kau tidak gerak cepat.”

 

“Mino,” Seungyoon memanggil, suaranya tenang, seolah seluruh kesabarannya dari kecil hingga sebesar ini bertumpu di dalamnya, “diam dan jangan biarkan aku menendang bokongmu keluar dari sini.” lalu si pria memungut jaketnya dari pinggir kasur untuk mengenakannya.

 

Lho, lho, kok sudah pakai kemeja malah pakai jaket lagi? Berkerah pula. Kenapa selera fesyenmu buruk sekali, sih?”

 

Matanya memandang lurus. Mino melempar tawa lebar dan segera melesat keluar sebelum kaki mantan atlet beladiri itu mendepak bokong besarnya.

.

.

.

.

.

 

iv.

 

Kang Seungyoon, sembilan belas tahun, naksir Ashley Bradbury.

 

Seungyoon berguling lagi di kasurnya, tidak nyaman. Jam yang terpancang di dindingnya sudah menunjuk pukul tiga pagi. Kelopaknya enggan mengatup. Diam-diam ia menyuarakan penyesalan sampai fajar terbayang dari garis gorden kamarnya.

 

(Menyesal, saat malam dimana ia mengantarkan Ashley kembali ke rumahnya, gadis itu sempat menahannya dan bertanya apakah ada yang ingin Seungyoon bicarakan sebelum gadis itu pergi―tapi pria itu, dengan senyum lebar yang dipenuhi keegoisan sesaat, menggeleng dan berkata tidak ada yang ingin ia bicarakan.)

 

Ia menyingkap selimutnya, mengusap wajah.

 

Ashley akan kembali ke Berlin hari ini. Otaknya mendadak kosong, tidak yakin harus melakukan apa.

 

(Banyak. Banyak sekali yang ingin ia bicarakan. Segala hal yang kadang timbul-tenggelam dalam kepala akibat determinasinya untuk tidak merusak pertemanan, walaupun Mino sudah jutaan kali memastikan kalau hubungan mereka akan sangat disayangkan hanya untuk berakhir sebagai sahabat saja.)

 

Seungyoon menghela napas panjang. Jamnya sudah menunjuk pukul lima, dan ia menyerah untuk terlelap.

.

.

.

.

.

 

v.

 

Sekali lagi, Kang Seungyoon, sembilan belas tahun, naksir Ashley Bradbury.

 

Mino sudah bersiul dari luar, mengoda dengan jelas saat untuk pertamakalinya, di hari terakhir Ashley berada di San Francisco, Seungyoon menciumnya. Persetan dengan sahabat. Ia sampai tidak bisa tidur semalaman.

 

Ashley tertawa kecil, menangkupkan tangannya di wajah Seungyoon, kemudian.

 

“Katakan,” Ashley menggeleng ragu, antara percaya-tidak-percaya. Binar di matanya semakin terlihat dan wajahnya semerah kepiting, “katakan, sejak kapan?”

 

Seungyoon mengingat lagi.

 

Sejak kau memuji hoodie lumba-lumbaku dan kau bilang kalau lumba-lumba adalah salah satu hewan menarik yang berguna untuk ekosistem, mungkin. Atau saat kau menyebut nama belakangmu dan aku berpikir namamu seperti nama cokelat yang biasa kuhabiskan berdua dengan Mino, atau bisa jadi saat kau memberi setoples kue kering dan susu waktu aku menangis ketika Mom dan Dad bercerai. Apa mungkin saat kau, untuk kesekian kalinya membuatku terjaga hingga pagi. Sejak kapan sebenarnya, huh.

 

“Sejak dulu.” akhirnya Seungyoon berkata.

 

Ashley terkekeh, mengecup pria itu sekali lagi. Mino kembali berteriak dari luar dan Seungyoon memberinya jari tengah sebelum kembali merapatkan dirinya.

.

.

.
-fin.

.

.

.

[Ini sebenernya ff remake. Tadinya castnya anak ekso dan berhubung gue lagi jatuh cinta pake BANGET sama Seungyoon yasyudah lah wkwk dan kenapa gue panggil mino dengan sebutan ‘alis’ soalnya gue inget yang alisnya dia kek ulet bulu goyang2 pas meranin kim woobin di parodinya the heirs wkwk

Mind to review?^^

Tertanda,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s