[EXO FANFICTION] SOULMATE – Leavendouxr

143578098643

SOULMATE – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Chanyeol, Nate [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette
.

.

Kata orang, mereka itu soulmate karena punya tato yang sama. Apa benar?

.

.

.

.

.

Natalie Brooks menatap risih. Di hari pertamanya sebagai siswi baru di sekolah reguler Paradise, Ohio, ia sudah dapat atensi yang berlebihan. Dia tidak melakukan apapun, pun bicara saja hanya sedikit―dengan kepala sekolah dan guru tata usaha saat ia mengambil jadwal, tentunya.

 

Ia mencoba membuka lokernya, agak mengguncang sedikit sebab daun pintu enggan terbuka. Dan seseorang dari arah berlawanan berhenti di dekatnya, menyapa pelan-pelan, “Butuh bantuan?”

Nate tersentak, sejurus kemudian mengangguk kecil. Sebetulnya ia tidak paham dengan kedatangan orang itu.

“Loker di sekolah ini memang agak payah,” kemudian pemuda dengan jaket cokelat tua itu mengambil alih pintu loker dan dengan sentakan kecil, daun pintu terayun keluar.

“Trims.”

Anytime,” pandangannya menyusuri Nate dari ujung kaki sampai rambut, “aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Murid baru?”

“Yup.”

Well, semoga hari pertamamu menyenangkan. Dan, kau ada kelas apa habis ini?”

Gadis itu mengintip jadwalnya, “Astronomi.”

“Oh, yeah,” pemuda itu terkikik kecil, “hati-hati dengan Mr. Roland. Kau tidak boleh lengah saat pelajaran ‘mengamati planet lebih dekat’ karena dia bakal memberi pertanyaan di akhir pelajaran, tentang permukaan merkurius atau bulan berjerawat. Dan kalau kau tidak bisa jawab, habis sudah.”

“Aku akan ingat soal itu, um―”

Seolah tersadar, pemuda itu mengambil suara, “Yeah, aku Lay, tapi aku tidak suka melakukan lay up, oke?” Nate tersenyum kecil mendengar guyonannya, “dan kau?”

“Nate. Natalie Brooks. Brooks. Bukan broke atau books.”

Lay tertawa. “Oke, oke. Aku tidak akan menyebutmu begitu,” kemudian fokusnya teralih pada arlojinya, “aku ada kelas Bahasa habis ini. Sampai nanti.”

Nate mengiyakan. Lay melewatinya sedikit, tapi ketuk sepatunya berhenti dan memutar untuk kembali berhadapan. Kerlingan kecil menarik perhatian gadis itu, “Omong-omong, aku suka tato Apache di lenganmu. Sama seperti tato milik temanku.”

.

.

.

.

.

Natalie Brooks dapat satu ketidakmengertian lagi sehabis ia bertemu dengan teman barunya―atau bahkan belum bisa dibilang seakrab itu.

Jadi, dia punya tato yang juga dimiliki orang lain? Atau mirip?

Dia sudah menggambari tubuhnya sejak kelas satu SMU dengan tato temporer yang dalam beberapa bulan bisa bersih tanpa noda, tapi baru kali ini dia benar-benar melekatkan tato bergambar wajah pria suku Indian yang tidak mudah menghilang sekalipun ia menggerusnya dengan air keras.

Dan laki-laki tadi suka dengan tatonya. Terutama karena tatonya mirip dengan tato temannya. Well, ia tidak berpikir soal ‘mendapatkan-teman-baru-karena-memiliki-tato-yang-sama’, sebetulnya.

Nate mengambil makan siangnya―sepaket burger keju dengan kentang dan kola, lalu menempati satu-satunya kursi kosong di antara sekerumunan orang. Oh, ini agak buruk. Ia ada kelas Geografi dua puluh menit lagi.

“Wah, kau punya tato yang sama dengan Chanyeol. Apakah kalian soulmate? Astaga, itu manis sekali.”

Seorang gadis mendatanginya dengan jeritan cukup keras. Keberuntungannya hanya satu; suasana kantin sedang ramai seperti di tempat perjudian, jadi dia tidak harus menanggung malu yang besar. Hanya beberapa orang yang satu meja dengannya yang menoleh untuk menyuarakan keingintahuan.

Nate menjauhkan burger dari bibirnya, “Maaf?”

“Kau anak baru, ya? Pantas saja.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Gadis itu menunjuk tato yang sedikit tersingkap dari lengan atas kaus Nate. Oh, ingatkan ia untuk pakai baju lengan panjang selama musim ini. Bisa heboh kalau sampai ketahuan guru. Masih baru saja sudah banyak gaya. Uh.

“Tatomu, sama persis dengan tato Chanyeol.”

Alisnya bertaut, “Chanyeol?”

“Iya, ketua tim voli. Sama persis, seperti teori soulmate yang pernah kubaca di internet.”

Teori soulmate? Bah, apa pula itu.

Nate mengangguk, “Oke.” ia tidak tahu harus merespon apa. Tapi dari caranya menatap lekat Nate, juga antusiasme yang muncul mengingatkannya pada tatapan-tatapan yang tadi pagi tertuang kepadanya.

God, jadi semua orang berpikir kalau dia adalah pasangan jiwa dari laki-laki―siapa namanya tadi itu? Dan menurut mereka itu manis? Hanya karena tato mereka sama?

Sama persis, katanya.

Dua puluh menitnya tersisa tinggal lima menit lagi, maka ia mengambil kantong kertas kentangnya dan pergi dari kerumunan orang. Hari pertamanya penuh dengan kebingungan, tapi dia tidak bohong soal rasa penasaran yang diam-diam menggelitik hatinya.

Orang yang punya tato Apache juga, ya.

.

.

.

.

.

Sepatu kedsnya berhenti menapaki trotoar seusai melewati gerbang SMU. Kepalanya mendongak, mau tidak mau melihat siapa pemuda jangkung yang menghalau langkahnya. Dia mustinya bilang permisi dan berjalan menjauh, tapi keinginannya untuk pulang terlanjur diambil alih oleh sosok lain.

“Kau Natalie Brooks, ‘kan?”

Great, siapa lagi ini?

“Yup.”

“Anak baru, pindahan dari Toronto, kelas di ujung lorong, wali kelasmu Mr. Julius dan,” laki-laki itu memberi jeda, ada senyum yang timbul, “dan kau punya tato di lengan kanan. Wajah pria suku Indian.”

Nate mendengus, matanya memandang penuh selidik, “Kau semacam penguntit?” alisnya bertaut, tanpa sadar mengambil jarak.

“Paradise tempat yang kecil, Nona, dan disini, berita menyebar seperti virus Ebola.” pemuda itu menyapukan pandangan dari ujung kaki sampai ujung rambut Nate, persis dengan yang Lay lakukan tadi pagi, “dan sejujurnya, warna kulitmu tidak seperti orang Toronto.”

Nate mengibaskan tangannya, “Bisakah kau minggir sekarang? Aku bisa ketinggalan bus.”

“Mau pulang bersamaku?”

“Jangan gila. Kau siapa?”

“Chanyeol. Park Chanyeol.”

Sementara otaknya mencetak ingatan yang baru-baru ini tersimpan, tangannya berjentik di dekat telinga. Ia ingat nama itu.

Soulmate?”

Kekehan pelan terdengar sumbang, laki-laki itu belum memindahkan atensi, “Kau sudah dengar itu juga, toh.”

“Semua mata melihat ke arahku dan seorang gadis tiba-tiba saja menggangu makan siangku. Oh, betapa kerennya sekolah ini. Masih SMU saja sudah bicara soal pasangan jiwa. Dan kautahu, katanya karena kita punya tato yang sama.”

Chanyeol menggulung lengan kemejanya sampai melebihi siku, masih berusaha menampilkan tatonya meski sulit karena semakin ke atas, lengan kemejanya semakin menyempit.

Saat sebuah tato yang sama dengannya (Nate harus mengakui kalau tato yang terpoles lugas di lengan Chanyeol sama persis seperti miliknya―tidak ada yang dibuang) menyembul dari balik kain, Nate tidak bisa membendung keterkejutannya.

Wow.

Seorang pria Indian dewasa, lengkap dengan aksesoris kepala, gurat masa tua di salah satu pipinya juga warna monokrom yang berbaur di setiap garisnya.

“Kau―” gadis itu tidak tahu harus bilang apa, “―gila, ini sama persis. Jangan bilang kau memang penguntit? Dimana kau membuat tato itu?”

“Jangan mengarang, aku buat ini sudah lama, sebelum liburan akhir tahun. Di Ohio juga. Kau yang mengikutiku.”

“Enak saja. Aku sudah punya tato ini sejak kelas dua SMU. Dan aku membuatnya sewaktu berlibur di Sidi Bou Said.”

Reaksi Chanyeol selanjutnya membuat Nate gemas ingin menempeleng kepalanya, “Ya sudah, berarti kau memang pasangan jiwaku.”

Nate menekan ujung hidungnya―hal yang biasa dilakukannya kalau sudah pusing tujuh keliling, “Kau bicara apa?”

“Aku juga tidak percaya, sih, tapi semua orang bilang begitu. Asal mulanya dari seorang murid Sosiologi yang membuat website, lalu salah satu artikelnya membahas teori tentang Soulmate, katanya; segala bentuk coretan yang ada di tubuh seseorang akan muncul juga di tubuh pasangan jiwanya dan akan menghilang seiring frekuensi pertemuan serta tumbuhnya kedekatan*. Dan BOOM, langsung jadi pembicaraan dimana-mana.”

“Ada kasus seperti itu di sekolah ini?”

“Kita yang pertama, sepertinya. Buktinya langsung heboh begitu.”

Nate menggelengkan kepalanya cepat, menolak mentah-mentah, “Tidak mungkin. Aku dan kau sama-sama membuatnya, tidak ada yang muncul sendiri seperti simsalabim. Jadi kau tidak mungkin pasangan jiwaku,” kemudian ia berdecak, “siapapun yang membuat itu, astaga, dia sudah membuatku terkenal satu sekolah dalam waktu cepat.”

“Yah, karena kasusmu sekalian menyeretku. Mau dikata apa, namanya orang terkenal. Bahkan cuma masalah tato yang sama saja langsung heboh.”

“Percaya diri sekali,” gadis itu mengambil langkah, tapi Chanyeol mencekal sebelah tangannya, “apa lagi?” ia bertanya gusar, akhirnya.

“Bukannya sudah kujanjikan untuk pulang bersama? Motorku masih di dalam sekolah. Keberatan kalau kembali lagi ke sana?”

.

.

.

-fin.

.

.

.

[Mau minta maap dulu karena lagi2 gue bikin gajelas gini muehee. Singkat dan gajelas, oke, bikinnya abis ulangan Bio soalnya /yha /alesan
Berminat review?^^

*Kata2nya diambil dari fic Seperti Mencari Jarum di Tumpukan Jerami karya orphan_account (AO3 – Eruri)

Love,

Far.]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s