[EXO FANFICTION] ASKHOLE – Leavendouxr

14657948579

ASKHOLE – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Sehun, Kelsie [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette
.

.

Sehun bertanya, dan gadis itu menjawab.

.

.

.

.

Jadi, Oh Sehun datang lagi. Tepat saat jam pada dinding perpustakaan menuding pukul tiga sore.

 

Kelsie River memandangnya agak ragu, kali ini ia datang dengan kaus biru tua dan jins, lalu tasnya diselempangkan ke belakang. Tidak menggunakan tas punggung hitam juga jersey nomor punggung tujuh belas yang menjadi pakaian wajibnya. Senyum lebar pemuda itu menyambut pandangan Kelsie.

 

“Halo.”

 

“Mana jersey futbolmu?” Kelsie mengerutkan alis sembari menumpuk buku-buku untuk anak sekolah dasar edisi terbaru.

 

Sehun melirik pakaiannya sendiri, “Kau tidak suka dengan pakaianku yang seperti ini?”

 

“Tidak biasanya kau menanggalkan jersey keramatmu itu. Kenapa? Sudah ganti idola?”

 

Pemuda itu tertawa, “Tentu saja tidak. Tenang saja, aku tetap cinta Brian Sipe. Jersey nomor punggungnya sampai memenuhi lemariku.”

 

Yeah, yeah.”

 

Kelsie menaruh tumpukan terakhir buku pada rak, kemudian mengikuti Sehun yang sudah mengambil tempat di meja sudut ruangan. Pemuda itu mengeluarkan dua kaleng Coke dari tasnya, yang satunya diberikan pada Kelsie. Gadis itu menimang kaleng sodanya, bertanya skeptis, “Apa ini seperti sogokan untuk menambah waktu belajar?”

 

Sehun terkekeh dibuatnya, “Bisa jadi.”

 

Kelsie menahan senyum, “Masih kelas dua SMU sudah jago menyogok. Mau jadi apa kau nanti?”

 

“Pemain futbol? Aku akan bermain untuk Cleveland Browns.”

 

“Seperti Brian Sipe?” Kelsie bertanya.

 

“Seperti Bernie Kosar juga. Dia pemain favoritmu, ‘kan?”

 

Kelsie mengangkat bahu, membuka kaleng sodanya. “Jadi, apa yang ingin kautanyakan?” gadis itu menatap buku Sejarah yang baru ditaruh Sehun di meja, dan kepalanya jadi bertanya-tanya, “Kau ingin aku mengajarkan Sejarah? Aku tidak yakin kau sebegitu tidak punya waktu untuk baca materi. Sejarah tidak perlu diajarkan, hanya perlu membaca.”

 

“Tahu, aku tahu,” pemuda itu memainkan alisnya, “tapi aku butuh. Tentang peradaban manusia dan, um, kekaisaran Romawi.”

 

Kelsie membuang napasnya, membolak-balikkan halaman buku. “Oke, kita mulai.”

 

“Tunggu,” Sehun menyela, “kau tidak ingin bertanya dulu, apa yang terjadi di sekolahku hari ini? Atau bagaimana hariku? Bagaimana pelajaran di sekolah?”

 

“Oh Tuhan.” Kelsie memutar bola matanya.

 

Ia cukup menyerah dengan kelakuan anak kelas dua itu. Diantara puluhan kali kunjungan Sehun, Kelsie paling kesal kalau disuruh mendengarkan ceritanya. Sehun akan curhat segala jenis kejadian yang dia alami, lalu minta saran, lalu waktu belajar mereka diundur, lalu Kelsie harus menahan rasa tidak enak pada Mrs. Susan dari balik meja penjaga sana.

 

(Dulu, dulu awal-awal Sehun meminta privat dadakan dengannya, Mrs. Susan agak kurang suka karena artinya Kelsie harus meluangkan waktunya untuk Sehun dan tidak sempat membantu beres-beres. Tapi akhir-akhir ini Mrs. Susan malah senang di datangi anak itu. Dia bilang, Sehun menggemaskan.)

 

Mungkin kedepannya Kelsie harus lebih berhati-hati untuk mudah jatuh iba dengan pengunjung perpustakaan yang kesulitan belajar.

 

Barangkali ia terlalu baik waktu itu; waktu Sehun pertamakali datang ke perpustakaan (dengan jersey nomor punggung tujuh belas juga) untuk mencari buku matematika karena ia bodoh di trigonometri dan berbekal keramahan juga kebaikan hati, Kelsie mengajarinya sedikit soal materi itu.

 

Dan imbasnya, anak bau kencur itu selalu menempel padanya bahkan hingga hari ini. Tiap mereka bertemu, bahasannya banyak. Dari materi sekolah sampai curhat tanpa tujuan, dan jangan lupakan; bicara dengan Sehun itu tidak cukup hanya sepuluh menit.

 

“Ayolah, Kels.”

 

“Baiklah,” gadis itu menghirup napas dalam-dalam. Sudah hampir jam setengah empat. “jadi, ada hal penting apa yang terjadi denganmu di Paradise High School?”

 

Senyum Sehun mengembang, “Soda yang tadi kuberikan padamu itu sebetulnya dari Alley. Sudah pernah aku ceritakan belum? Rambutnya cokelat, lumayan cantik. Dia sering memberiku sesuatu. Kelihatannya dia naksir aku. Menurutmu bagaimana?”

 

“Apa?”

 

“Aku musti apa? Kalau gadis itu suka padaku, aku harus bagaimana?”

 

Kelsie memegangi kepalanya sedikit, “Kau suka dengannya tidak?”

 

“Tidak juga, sih, tapi dia oke. Nilai matematikanya semester ini hampir sembilan puluh lima. Woah. Aku langsung jenius kalau berkencan dengan dia.”

 

“Baiklah, aku tidak akan melarangmu berkencan.”

 

Sehun terkekeh, “Lalu tadi Mr. Gerald memintaku untuk ikut kompetisi menulis. Wah, yang benar saja dia. Bikin karangan bebas saja nilaiku dibawah kriteria ketuntasan, apalagi ikut kompetisi. Menurutmu bagaimana?”

 

“Coba saja. Siapa tahu otakmu langsung terbuka habis ikut kompetisi.”

 

“Hm. Betul juga.”

 

“Jadi tidak, belajarnya?”

 

“Jadi, jadi,” Sehun menopang dagunya dengan punggung tangan, “tapi, betul juga katamu. Sejarah ‘kan bisa dibaca dirumah. Jadi, bagaimana kalau aku curhat saja padamu?”

 

Kelsie mengurut pangkal hidungnya, “Astaga, Sehun.”

 

“Yayaya?”

 

Gadis itu melirik jam dinding, kemudian melirik Sehun yang memasang wajah memelas, lalu jam dinding lagi, lalu Sehun lagi, baru menghembuskan napas pelan-pelan, “Oke, tapi hanya sampai jam empat. Tidak lebih.”

 

Raut kecewa terpasang jelas, “Yah, tapi tadi sudah kuberi soda.”

 

“Kalau tidak mau ya sudah. Aku mau kembali bekerja.”

 

“Iya, baiklah,” lalu pemuda itu mengetuk dagunya pelan, “aku diundang ke pesta ulangtahun Andreas. Menurutmu apa aku harus datang?”

 

“Datang saja, kenapa tidak?”

 

“Aku malu, sebetulnya. Teman-temanku pasti mengajak pacar mereka dan aku tidak mungkin mengajak ibuku kesana.”

 

Diluar dugaan, Kelsie mengurai tawa keras, “Oh, astaga, astaga. Jadi kau masih mengajak ibumu untuk acara-acara seperti itu?”

 

Si pemuda mendengus, “Aku sudah bertaubat untuk itu. Kau harus tahu rasanya membawa orangtua ke acara remaja.”

 

“Ya Tuhan aku masih ingin tertawa.”

 

“Kels,” tatapan itu terjatuh padanya. Kelsie menahan tawa dengan menutup mulutnya dengan punggung tangan. Sehun melanjutkan, “Aku harus bagaimana?”

 

“Ajak saja Alley. Aku yakin seratus persen dia bakal berguling-guling di kasur setelah kau meneleponnya untuk menemanimu datang ke pesta ulangtahun.”

 

Sehun mengangguk, “Betul juga. Tapi aku ‘kan tidak suka dengannya.” kemudian mata cokelatnya menyelami iris lain yang kelihatan bosan. Diam-diam ia tersenyum, “Mau tahu sesuatu, Kels?”

 

“Apa?”

 

“Sebetulnya, aku sedang jatuh cinta. Dengan gadis lain.”

 

Kelsie berdecih, sudah paham arah pembicaraan. “Silahkan saja. Tidak ada yang melarangmu naksir siapapun.”

 

Sehun memundurkan kursinya, “Tidak penasaran tentang gadis mana yang kusukai?”

 

Gelengan kepala membuat Sehun gemas, “Aku masih lebih penasaran dengan hilangnya majalah Cosmo di rak.”

 

“Duh, kau ini. Aku serius. Aku sedang naksir seseorang. Dan orangnya cantik, pintar juga. Lebih tua dariku. Aku harus bagaimana?”

 

“Nyatakan perasaanmu, selesai.” lalu pandangan gadis itu mendadak turun, meneliti pakaian Sehun dan seringai tampil di bibirnya, “Jadi itu, alasanmu tidak pakai jersey lagi. Supaya bisa terlihat keren? Oh, ya ampun, anak ingusan yang belum lama ini minta diajarkan trigonometri padaku, sudah besar rupanya.”

 

Sehun tergelak dan menunjuk kausnya, “Aku keren, ‘kan?”

 

“Sedikit.”

 

“Um, Kels, sebetulnya aku punya tugas desain rumah dan taman dari Mrs. Colhant. Aku mau tanya pendapatmu soal rumah. Kau suka rumah yang seperti apa?”

 

Alisnya berkerut, “Kenapa pertanyaanmu jadi random begini?”

 

“Sudahlah, jawab saja.”

 

Kelsie menggulirkan pandangan, menatap satu per satu rak buku yang disusun sedemikian rupa. Matanya berhenti pada rak berisi dongeng dan buku cerita anak, kemudian ia teringat dengan salah satu buku yang disimpannya sendiri di rumah. Sebuah buku cerita bersampul gambar rumah sederhana di pedesaan, dikelilingi bunga lavender, cerobong asap, dan pintu dari kayu ek.

 

Senyum muncul, tanpa sadar. Dan Sehun masih memerhatikan.

 

“Mungkin sebuah rumah sederhana, memiliki cerobong asap, jendela kayu, dindingnya bercat kuning gading, dikelilingi ruput hijau dan bunga lavender.”

 

Sehun menggaruk tengkuknya, “Bukan begitu maksudku. Kupikir kau suka rumah minimalis, bertingkat tiga atau lainnya? Aku hanya ingin membuat desainnya, Kels, bukan membangun rumah betulan.”

 

Gadis itu mendelik, “Aku jadi menyesal menjawab pertanyaanmu.”

 

Cengir lebar itu kembali menarik atensinya. Sehun mengangguk, “Tapi bagus. Aku suka idemu. Mungkin kapan-kapan aku bisa membangun rumah yang seperti itu.” Kelsie hanya mengiyakan.

 

“Apa, ya,” lagi, Sehun melanjutkan, “oh, ya. Selama libur, aku maraton serial televisi, film dan anime, lho. Aku agak bingung, sebenarnya, dengan karakter favoritku. Kautahu, James Bond, Germany, Naruto, Erwin Smith, Armin Arlert, Annie Leonhart, Castiel sama-sama punya mata biru dan rambut pirang. Apa itu kebetulan?”

 

“Jangan mengarang, Castiel warna rambutnya hitam.”

 

“Oke, minus Castiel. Menurutmu kenapa? Kenapa seseorang berambut pirang, matanya berwarna biru?”

 

Kels mengangkat bahu, “Entahlah, sudah turunan, barangkali.”

 

“Dan mata biru rambut pirangmu itu juga turunan?”

 

Gadis itu baru sadar apa yang dibicarakan Sehun. Pelan, rasa hangat menjalari pipinya. Kelsie buru-buru menguasai keadaan dan menenggelamkan rasa aneh yang timbul lewat tawa.

 

“Tentu saja turunan dari ayahku. Tapi mungkin, pembuat karakter itu berpikir kalau pirang identik dengan matahari dan biru adalah langit.”

 

“Dan gadis yang kusukai itu rambutnya pirang, lho. Masih tidak ingin tahu siapa dia?”

 

Kelsie mengetuk jarinya di meja. Oh, anak kecil itu benar-benar.

 

“Kels, aku mau tanya lagi. Kalau aku bilang aku suka padamu, kau mau jadi pacarku tidak?”

.

.

.

-fin.

.

.

.

[Gue bikin apa ini lmao. Makin kesini makin gajelas aja ya lord wkwk tolong dimaafkan:’) /okeguepahamini/ review sangat dibutuhkan{}

Dan buat yang namanya siapa James Bond, Germany, Castiel, Erwin Smith; mereka barisan para selingkuhan saya (dan plis abaikan judulnya yg asdfghjkl)]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s