[EXO FANFICTION] DALLIANCE – Leavendouxr

1467895066

DALLIANCE – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): EXO’s Sehun, Hale [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

.

Kena tilang dan bertemu orang mabuk ternyata tidak seburuk yang ia pikirkan.

.

.

.

Oh Sehun kenal betul dengan Hale Donovan. Putri satu-satunya dari sheriff termashyur yang rajin sekali melakukan patroli dengan mobil bututnya yang hampir kadaluarsa. Sheriff Christ Donovan memang polisi patroli tertua yang dikenalnya―atau yang pernah memberikannya kartu tilang hingga tiga kali. Wow, rekor sekali.

 

Meski kacamata lensa berlapis hampir tidak pernah absen dari batang hidungnya, tapi jangan mudah tertipu penampilan. Matanya masih awas, gerakannya luwes, seperti saat pertamakali tes masuk akademi. Sehun bahkan tidak pernah melihatnya absen seharipun untuk patroli keliling Hillsboro.

 

(Sehun sering menemukan mobil ketinggalan jaman itu melintas di depan bengkelnya dan diam-diam suka gatal sendiri untuk mereparasi. Paling tidak mengganti catnya, memperbaiki rem atau mengecek knalpot yang bunyinya klotak-klotak sepanjang jalan.)

 

Dan sheriff veteran itu punya satu anak gadis. Masih gadis sekali. Wajahnya cantik, tubuhnya aduhai. Model-model papan atas langsung kalah saing―atau begitulah curhatan satu-dua karyawannya saat Sehun akan keluar untuk membeli kopi dan melihat Sir Donovan’s little girl itu menyambangi toko suvenir di seberang jalan.

 

Sekali lagi, Oh Sehun kenal dia.

 

Kenal melalui cerita lampau ayahnya sewaktu Sehun ditahan lima jam karena lengah dan ujung mobilnya menabrak tiang listrik. Dalihnya waktu itu adalah karena ia mengantuk, lagipula ia bukan menabrak orang, hanya tiang listrik dan sahutan sang sheriff sama sekali tidak terduga.

 

Bapak-bapak yang hampir memasuki usia enam puluh lima tahun itu berkisah tentang anaknya yang tidak pernah melanggar peraturan dari usia satu tahun, selalu meraih prestasi di segala bidang hingga sekumpulan medalinya bisa dikilo sampai puluhan ribu dolar. Jelas berbeda sekali dengan Sehun yang sudah berulang kali kena denda padahal usia mereka tidak terpaut jauh.

 

Malam itu, Sehun kembali teringat ucapan Sir Donovan ketika kakinya berhenti di depan konter bar, dan menarik kursinya pelan-pelan. Bukan jajaran botol minuman keras yang di fermentasi dalam waktu lama yang menarik perhatiannya, melainkan gadis pirang yang ia kenal betul figurnya.

 

Setengah mabuk, rambutnya teruntai berantakan pada permukaan meja konter. Tangannya terkulai di sisi botol rum, mulai mendengungkan sesuatu yang tidak jelas.

 

Sehun memesan konyak, menunggu beberapa saat. Pelan, ia menepuk bahu berbalut blus merah terang itu untuk mendapatkan atensi. Hale Donovan berbalik, matanya setengah mengantuk tapi masih sanggup menampilkan ekspresi heran. Alisnya yang tidak disulam itu naik beberapa senti, inginnya menyuarakan pertanyaan tapi Sehun menarik suara lebih cepat.

 

“Apa yang akan dilakukan Sir Donovan begitu melihat anak gadisnya keluyuran dan mabuk malam-malam begini?”

 

Ia mendengar Hale berdecih, jelas sekali menolak kalimat interogatif yang digunakan Sehun. Jari-jari dengan kuku berpoles kutek biru muda itu mencengkram badan gelas yang masih menyisahkan sedikit rum di dasarnya. Mulut gelas hampir menyentuh bibirnya. Sehun mengambil alih, menaruh kembali gelas di meja karena kelengahan.

 

“Oh, fucking man, apa yang kau lakukan?” Hale menepis tangan Sehun.

 

“Masih bisa menghardik saat mabuk, Nona Donovan?”

 

Gadis itu mengangkat satu telunjuknya, matanya makin menggelap karena mabuk, “Dengar,” ia berhenti, mengambil jeda untuk menahan mual, “aku tidak peduli siapa kau, atau darimana kau berasal, tapi tolong tutup mulutmu. Aku tidak kenal padamu, jadi sebaiknya kau―”

 

“Sehun. Namaku Oh Sehun.”

 

“Persetan.” gadis itu mengambil gelasnya, tidak menyisahkan satu tetes rum dari gelas.

 

Sehun mengangkat sudut bibirnya, memainkan gelas konyak dalam apitan jarinya tanpa berniat minum. Matanya masih memerhatikan setiap gerakan lambat yang dibuat oleh Hale―bagaimana tangannya yang seputih salju itu menyampirkan tas setelah mengeluarkan lembaran uang, juga tubuh yang bergerak menjauh beberapa langkah.

 

Sehun mengeluarkan dompet, membayar konyaknya. Ia menerobos keramaian, berhasil mencapai tangan Hale dan menariknya keluar dari bising. Diluar, gadis itu mencoba melepaskan diri dari cengkeraman.

 

“Kau lagi.” desisnya. Suaranya agak tertahan.

 

“Aku akan mengantarmu pulang. Tidak baik gadis pulang sendirian di jam selarut ini.”

 

Hale memandang tidak percaya meski pusing makin mengetuk kepalanya, “Kau siapa?”

 

“Sehun. Oh Sehun.”

 

“Tidak, bukan itu yang kumaksud.”

 

Senyum lebar juga pintu mobil yang terayun keluar mengiringi suara Sehun, “Aku orang yang cukup dekat dengan ayahmu. Jelas?”

.

.

.

.

.

Sehun yakin tadi pagi ia hanya tidak sengaja melihat gelandangan duduk samping toko suvenir di seberang bengkelnya, lalu dengan kedermawanan yang sudah menjadi nama tengahnya, ia dengan baik hati memberikan sejumlah makanan dan uang.

 

Tapi dia tidak tahu dampak bersedekah itu sebegini besarnya. Seperti contoh; ia baru saja menangkap eksistensi seorang gadis yang ditemuinya seminggu lalu di konter bar, kini tengah duduk anteng di sofa panjang dalam bengkelnya.

 

Keberuntungan sekali.

 

Sehun mengelap tangannya dengan serbet, mengayun tungkai lamat-lamat untuk mendekati putri satu-satunya dari sheriff yang belum lama ini ia lihat melewati bengkelnya untuk berpatroli sore.

 

“Hale?”

 

Si gadis menoleh cepat. Rasanya seperti mengenal suara yang―

 

Oh, yeah.

 

“Kau?”

 

Sehun mengabaikan rasa bingung juga telunjuk yang menuding ke arahnya. Ia mengambil tempat di sisi Hale, “Ada masalah?”

 

Memilih mengesampingkan rasa terkejutnya, gadis itu kembali bersandar pada kepala sofa, “Tidak tahu juga, tadi tiba-tiba mesinnya mati, untung saja tidak jauh dari sini ada bengkel. Omong-omong, kau bekerja disini?”

 

“Ini bengkel milik ayahku. Sudah jadi milikku, sih, sebetulnya.”

 

Hale mengangguk tidak minat. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi jejaring sosial. Sehun rasa ia tidak mungkin hanya duduk untuk satu jam kedepan dengan posisi saling diam begini. Tidak ada salahnya memulai bicara.

 

“Oh, apa itu mobilmu?”

 

“Hm?”

 

“Kupikir kau datang kemari untuk membetulkan mobil tua ayahmu.”

 

Gadis itu menyimpan kembali ponselnya. “Aku tidak sudi membawa mobil berisik itu.”

 

“Ayahmu tidak berniat membawanya kemari? Aku bisa memberi sepaket reparasi gratis ditambah pengecatan ulang, lho. Paling tidak supaya bisa mengejar penjahat yang menggunakan Aston Martin.”

 

“Kau gila?” mungkin Sehun akan sakit hati dikatakan begitu kalau saja tawa tidak ikut terselip di dalamnya.

 

“Aku serius. Katakan padanya untuk datang kemari. Hitung-hitung balas budi karena ayahmu sudah memberi tiga surat tilang padaku, menyita SIM sampai cerita panjang selama lima jam waktu aku ditahan di kantornya.”

 

Hale tampak terkejut. Mata cokelatnya berkilat. “Benarkah?”

 

“Aku tidak dendam pada ayahmu, tenang saja. Lagipula aku sudah bersikap baik waktu itu dengan memulangkan anaknya yang mabuk, yah, walaupun ayahmu sudah mengusap-usap revolver dalam kantungnya sambil mendengar penjelasanku.”

 

“Aku tidak tahu kalau akan seburuk itu.”

 

“Ayahmu marah padamu?”

 

“Sedikit, tapi tidak masalah. Dia tipe orang yang akan lupa dengan masalah kalau sudah bangun tidur.”

 

Sehun tersenyum, “Kalau begitu dia lupa dengan masalahku?”

 

Yeah, harusnya.”

 

Gadis itu tidak buruk juga, pikir Sehun sesaat setelah mobil Hale selesai dibetulkan dan pergi tanpa lambaian tangan juga kata ‘sampai jumpa’.

.

.

.

.

.

Mereka kembali bertemu lima hari setelahnya. Bukan lagi di bar, atau bengkel, melainkan di toko suvenir tepat di depan bengkel. Tidak terduga, sebetulnya, tapi ini memang salah satu akan bulus Sehun yang datang setelah melihat Hale memasuki toko.

 

“Kau suka anting-anting ini?” gadis itu terkesiap, genggaman jari pada untaian aksesoris mendadak tegang.

 

“Apa yang kaulakukan? Kenapa kau disini?”

 

Well, ada masalah? Toko ini terbuka untuk umum dan letaknya di depan bengkelku.”

 

Hale mengangkat bahu, melangkah menuju rak gelang dan kalung yang dibuat dari tali. Liontinnya berbagai bentuk. Sehun mengekori meski sudah diberi tatapan tajam. Hale melirik tumpukan skarf di sebelah rak gelang.

 

“Aku ingin bertanya sesuatu.”

 

“Tentang?”

 

“Kenapa kau mabuk waktu itu?”

 

Tangannya berhenti menyentuh jalinan wol lembut pada skarf. Ia menghadap Sehun. “Kau tidak perlu tahu.”

 

“Ingat? Aku orang yang cukup dekat dengan ayahmu.”

 

“Lalu?”

 

“Ayahmu bilang kau anak yang baik dan tidak pernah melanggar aturan sejak usia satu tahun. Tapi kemarin kau melanggar aturan untuk tidak mabuk dan pulang malam. Ayahmu sampai melotot begitu padaku, ia pikir aku yang membawa kabur anak gadisnya.”

 

Hale tersenyum, tapi cepat kembali pada ekspresi sebelumnya, “Masalah pria.”

 

“Ah, begitu, ya.” Sehun menyentuh kerincing gelang-gelang tanpa sadar, “baru putus?”

 

“Dicampakkan karena gadis lain. Puas?”

 

Sehun terhenyak, sempat berpikir laki-laki macam apa yang bisa membuang anak sheriff yang cantik jelita itu. Ia buru-buru menggeleng, “Tidak, tidak, bukan begitu maksudku.”

 

Cokelat terang itu terarah lurus padanya, mengamati raut wajah. Sehun tersenyum sangat lebar, mendekati Hale hingga bahu mereka bersinggungan, “Kau tahu? Kemarin aku kena tilang ayahmu lagi.”

 

“Kau memang tukang cari masalah.”

 

“Bagaimana kalau kau jadi pacarku saja, supaya kau tidak dicampakkan lagi dan aku tidak kena tilang lagi? Kau tidak akan mabuk dan ayahmu tidak mungkin menilang pacar dari anak satu-satunya, ‘kan?”

.

.

.

-fin.

.

.

.

[Buat yang mau tau bedanya Hillsboro sama Hillsborough bisa cek disini

Mind to review gaiz?^^]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s