[WINNER FANFICTION] EMPÊCHEMENT – Leavendouxr

142536457859

 

EMPÊCHEMENT – Leavendouxr

Scriptwriter Leavendouxr

Cast(s): WINNER’s Seungyoon, Cassidy [OC]

Genre: half-romance, college!au

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

Apakah aku mengharapkanmu atau tidak; jawabannya keliru.

.

.

.

.

.

“Jadi, apakah aku bisa memesan sekarang, Miss Reeves?”

Cassidy Reeves memutar kepalanya melewati bahu, memandangi iris kecokelatan yang kelihatan lebih berbinar dari biasanya. Senyum lebar selalu terpasang―atau setidaknya begitulah yang sering terlihat oleh Cass jika mereka berpapasan di lorong atau kafetaria.

 

Sabtu siang memang waktunya santai, tapi tidak untuknya dan untuk laki-laki anggota tim basket kebanggaan kampus itu. Dan, oh, tentu saja teman-temannya yang berbadan besar itu juga.

 

“Tidak ada yang menyuruhmu memesan besok atau lusa.” ia menjawab sekenanya; tangan sibuk membenahi brosur perjalanan San Francisco yang menurutnya akan lebih efisien bila turis atau pelancong yang datang, mencari informasi sendiri lewat telepon pintar mereka daripada membaca brosur.

 

“Oke,” nadanya sengaja dimainkan. Terkesan sedang menggoda, tapi Cass cukup bebal untuk itu. Seungyoon mengetuk jarinya di meja, “apakah ada menu khusus saat weekend?”

 

“Tidak.”

 

“Oh, well, ini hari Sabtu dan kau masih sibuk begini.”

 

Cass menahan untuk memutar bola matanya. Ia menumpuk brosur dalam kotak yang sudah disediakan, “Membantu temanku, ada masalah?”

 

“Tidak, tidak.”

 

“Jadi kau ingin memesan apa?” si gadis sudah berkacak pinggang di depan konter. Seungyoon cukup menikmati wajahnya yang menahan kesal dengan bibir yang terus-menerus menarik napas lelah.

 

“Apa menurutmu, kopi kalengan, boston cream dan garlic fries adalah perpaduan yang masuk akal?” Seungyoon bertanya (untuk kesekian kalinya) lagi.

 

Cass menaik-turunkan napasnya, masih ada satu level kesabaran lagi sebelum ia mendepak pengunjung tidak tahu diri itu keluar dari kafetaria. Lagipula Hanbin tidak akan suka melihatnya berlaku tidak sopan pada pengunjung, meski pengunjung itu sudah membuat kepalanya berasap duluan. Seperti laki-laki yang mengenakan jersey di depannya ini.

 

“Cukup masuk akal untuk orang yang kelaparan sepertimu dan teman-temanmu,” gadis itu mengeluarkan kertas dan pena, lalu menghitung sekumpulan orang yang menempati meja di sudut ruangan―teman-teman Seungyoon, “oke, totalnya ada enam orang; jadi enam kopi kalengan, enam donat dan enam bungkus kentang goreng. Pesanannya akan siap dalam lima menit.”

 

Seungyoon terheran, “Kupikir, aku belum bertanya pada teman-temanku.”

 

“Teman-temanmu kelihatan kelaparan dan orang kelaparan akan makan jenis makanan apapun.”

 

Seungyoon membuka mulutnya, ingin menyuarakan argumen tapi tangan gadis itu keburu tergantung di udara; memintanya diam sementara ia melempar senyum pada Hanbin yang baru saja lewat. Senyum yang dibuat setulus mungkin supaya pemilik kafetaria itu tidak menyadari hasratnya untuk menendang bokong Seungyoon sekarang juga.

 

“Kau bisa kembali ke tempatmu, aku akan mengantarkan pesanannya.”

 

Seungyoon menggeleng, “Tidak perlu, aku tidak suka merepotkan wanita. Biar aku saja yang membawanya nanti.”

 

Cass betulan menggeliatkan bola matanya. Tuhan, laki-laki itu sudah merepotkannya sejak datang kemari.

 

Begitu pesanannya selesai, Cass memindahkan baki ke tangan Seungyoon. Bukannya pergi, laki-laki itu masih disana, malah mencondongkan tubuhnya melebihi meja konter. Matanya yang berkilat memandang lurus.

 

“Seungyoon, cepatlah!” salah seorang dari segerombolan itu, berteriak.

 

Cass mengalihkan pandangan, “Yeah, mereka memanggilmu. Bisakah kau minggir? Di belakangmu banyak yang mengantri, bung.”

 

Senyum terbit di sudut bibirnya, “Pertandingan basket, hari Kamis minggu depan. Kuharap kau bisa datang untuk menonton.” dan laki-laki itu pergi dengan kerlingan. Cass membuang napasnya ragu.

.

.

.

.

.

Dan di hari yang dijanjikan sebelumnya, tidak berjalan sesuai rencana. Cass berlarian di sepanjang koridor setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Wajahnya pucat, detakan jantungnya tidak konstan saat mencapai gerbang dan menghentikan taksi sebrutal mungkin. Ia masuk, memberitahukan tujuan dan duduk tidak tenang.

 

Ia memikirkan janjinya. Tidak, dia tidak pernah berjanji akan datang, Seungyoon sendiri yang memintanya tapi dia tidak pernah menyutujui. Cass menggigit kukunya. Sial.

 

Lagipula, Seungyoon juga tidak terlalu mengharapkan kehadirannya, ya, barangkali begitu. Mereka bukan teman dekat, hanya kenalan sewaktu Cass terpaksa menunggu Natasha Biel selesai dari rapat mingguan dan ia yang tidak tahu harus melakukan apa, tanpa sengaja menonton tim basket latihan sore.

 

Yeah, barangkali kehadiran Cass tidak sepenting itu. Apalagi oleh seorang Kang Seungyoon yang namanya cukup tersohor, mengikuti popularitas teman-teman setimnya.

 

Dan Cass terus mengulang pemikirannya hingga taksi berhenti di depan rumah sakit tujuannya.

.

.

.

.

.

Mereka bertemu seminggu kemudian di depan perpustakaan. Seungyoon menghentikan langkahnya dan Cass menolak menatap matanya. Ia menduga Seungyoon akan marah karena tidak menonton pertandingannya. Tapi dugaannya meleset. Laki-laki itu malah mengajaknya menyusuri koridor bersama.

 

“Ingin menjelaskan sesuatu soal hari itu?” suaranya terdengar santai, tapi menuntut. Cass dituntut bicara walaupun sebenarnya ia enggan membahas apapun.

 

“Tidak ada yang perlu dijelaskan, Kang,” ia mendesah ragu, “kita bukan teman dekat, hanya kenalan jauh. Kau juga tidak terlalu mengharapkanku datang.” Cass berhasil menarik hening. Ia semula tidak pernah berpikir akan mengatakan itu, tapi mulutnya seperti punya otak sendiri.

 

Ragu, Seungyoon memulai lagi, “Apa itu pertanyaan atau pernyataan?”

 

“Apa?”

 

Aku tidak mengharapkanmu datang? Astaga, ternyata kau memiliki kemampuan deduksi yang buruk.”

 

Cass melangkah, memberi jarak pada tubuh yang semakin mendekat, “Kau bicara apa.”

 

“Aku bicara tentangmu,” dan gadis itu terhimpit diantara pintu ruangan lain yang kosong; berada di ujung koridor. Ia tidak sempat mengelak saat Seungyoon menyambar kesempatan, “kenapa kau tidak datang?”

 

Gadis itu merasa Seungyoon hanya membuang-buang waktu, dan lagipula ia tidak berniat menjelaskan tentang pamannya yang mengalami kecelakaan mobil di hari pertandingan Seungyoon sehingga ia absen menonton.

 

“Aku tidak bisa.”

 

“Kenapa?”

 

Keras kepala. Cass tidak tahu kalau laki-laki itu benar-benar kepala batu.

 

“Lagipula, kau tidak mengharapkan kedatanganku?” ia menggantungkan kalimatnya; tiba-tiba merasa ragu.

 

Seungyoon menarik senyum―menunduk untuk mencapai bibir gadis itu, membawanya begitu dekat dan rekat. Ia mengambil napas kemudian. Detakan jantungnya tidak beraturan. Cass membuka matanya.

 

“Apa ini?”

 

Iris cokelat itu mengikat netranya, diikuti bisikan; “Jawaban dari asumsimu yang keliru.” dan bibir kembali terenggut tanpa penolakan.

 

.

.

.

-fin.

.

.

.

 

[HAHA ini sebenernya fic remake (maap ya seungyoon sayang dari kemarenan bagian lo gaada yang ori muehee) dari ficnya Xiumin wkwk yang mau liat versi original bisa liat disini dan ini pernah gue ikutin eventnya EXO Fanfiction heheheheheheee /gelinding/

Dan sebenernya di bagian awal-awal itu ceritanya gue terinspirasi dari author fav gue BANGET yaitu kak Kenzeira (yang kepo sama karyanya, monggo diliat2 hee) karena gue suka cara nulisnya doi yang asdfghjkl mantap gilaa. Dan oke ini cuma terinspirasi ya, gue gaada niatan copas atau apalah itu /dibuang/

Sorry for typos and mind to review?^^]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s