[EXO FANFICTION] SELCOUTH – Leavendouxr

14232536759

 

SELCOUTH – Leavendouxr

Scriptwriter: Leavendouxr

Cast(s): Huang Zitao, Beth [OC]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Vignette

.

.

.

Asing, tiba-tiba dan menakjubkan. Itulah Beth. Dan itulah Zitao.

.

.

.

.

Huang Zitao tidak kaget lagi. Ia hanya mengulum senyum sebagai respon kecil atas pembeberan rahasia yang belum lama ini dilakukan Abelia Bertram saat mereka bertemu di depan meja bar. Tao bahkan sudah tahu dari jauh-jauh hari. Dia sudah paham; sudah mengerti hanya dengan sedikit analisa.

 

Dua bulan lalu ia pernah bertemu dengan Bethany Rogen, di salah satu pusat perbelanjaan bersama Abel. Tao tidak tahu, ia hanya menyapa Abel penuh basa-basi kemudian tanpa sengaja ikut berkenalan dengan Beth.

 

Tidak ada yang menarik, Beth hanya seorang wanita cuek yang tidak peduli sekitar. Mereka tidak sempat mengobrol banyak. Tapi Tao cukup bisa menyimpan sosoknya dalam pikiran untuk beberapa hari kemudian.

 

Beth terlihat normal, seperti wanita lainnya. Hanya mungkin dia tidak terlalu menyukai kehidupan, atau entahlah, wajahnya selalu datar dengan lengkung bibir lurus tanpa senyum.

 

Begitupun saat mereka bertemu untuk kedua kalinya di kedai teh milik Jongdae, Beth menghampirinya dengan guratan di dahi. Tao membiarkannya duduk, menyapanya sedikit tanpa menghilangkan senyum.

 

Wanita itu menaruh satu tangannya di meja, “Kau temannya Abel waktu itu, ‘kan?”

 

“Yup. Huang Zitao.”

 

“Aku ingat.”

 

Senyum yang tertempel pada parasnya makin lebar, “Mau pesan sesuatu?”

 

“Tunggu,” Beth menyela, agaknya masih asing dengan keadaan ini, “boleh aku bertanya apa yang kita lakukan di sini?”

 

“Minum teh, apa lagi?”

 

“Tidak, maksudku,” ia seperti kehilangan kata. Tao tidak mengerti lagi, ia benar-benar terlihat seperti wanita pada umumnya. Beth melirik, “apa tujuanmu mengajakku kesini? Kupikir kita hanya pernah bertemu sekali dan kau tidak bilang mendapatkan nomorku dari siapa.”

 

“Hanya ingin mengobrol sebagai kenalan.”

 

Beth menatapnya skeptis, “Ada sesuatu yang penting?”

 

“Tidak juga.”

 

Hembusan napas terdengar lelah, “Baiklah, terserahmu.”

 

Tao mengulum senyum, meminta pelayan mendekat. Mereka memesan teh yang sama dan menunggu. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Beth mengeluarkan ponsel dari tasnya, mengutak-atik sebentar. Pesanan mereka datang dan keduanya tidak langsung menyicip.

 

“Teh di sini rasanya enak. Kau musti coba.”

 

Beth mengulurkan tangannya ragu, mengait kuping gelas dan menyicipi tehnya. Tao cukup benar soal rasa teh ini.

 

“Kau tahu, Beth,” laki-laki itu memanggil, Beth memaku atensi, “kau minum teh seperti seorang wanita,” Beth menatapnya dengan tautan alis, Tao memilih melanjutkan, “tapi kau memandang hidup seperti seorang pria.”

 

Lama mereka beradu pandang, sebelum Beth menaruh kembali tehnya pada tatakan. Kesepuluh jemarinya bertaut di atas meja, “Kau memintaku kemari hanya untuk mengatakan ini?”

 

“Aku suka kau. Sudah jelas apa tujuanku sekarang, ‘kan?”

 

Sama seperti respon Tao begitu mengetahui wanita di hadapannya ini adalah seorang transgender, Beth juga tidak memberi kesan terkejut atau apalah itu ketika gendang telinganya menangkap jelas suara Tao. Ia hanya menatap dalam jangka semenit, dua menit hingga degup jantungnya meningkat perlahan.

 

Beth menyugar rema hitamnya sejenak, “Apa kau bi?”

 

“Tidak,” Tao belum berhenti memutus pandang, “aku normal.”

 

“Dan kau suka aku?”

 

“Apa itu salah? Aku suka wanita dan kau adalah satu dari kaum itu sekarang.”

 

Tanpa sadar, tawa melesat keluar dari sela bibir tipis berpoles gincu warna nude, “Apa kau pikir ini semacam cinta monyet yang berakhir dengan one night stand?” satu alisnya naik, seperti meminta jawaban dengan cepat.

 

“Kau bisa menyebutku punya radar alami. Aku hanya mengatakannya sekali untuk seseorang yang benar-benar kuyakini. Dan one night stand kurang pantas di tujukan untukmu.”

 

“Kau mau menikahiku?”

 

Tao tersenyum sangat lebar, “Kau punya kemampuan menyimpulkan yang baik,” kemudian ia menarik punggungnya dari sandaran kursi, menunduk sedikit untuk menatap Beth lekat, “kau keberatan dengan permintaanku?”

 

Wanita itu ragu, tertangkap dari gerak-geriknya, “Kau tidak merasa aneh? Kita baru bertemu dua kali dan kau mengajakku menikah? Kau tahu kalau aku seorang transgender dan, oh, maaf bung, aku tidak bisa menghasilkan keturunan.”

 

“Cara berpikirmu lumayan juga,” ia mengeluarkan kekehan pelan, “kita bisa adopsi anak. Banyak cara.”

 

“Kau yakin?” Beth bertanya lagi.

 

“Apa kau juga yakin?” Tao mengulang.

 

Beth seperti kehilangan kata, tidak paham harus mengatakan apa. Ini telalu tiba-tiba, kepalanya kosong, sementara Tao terus menatap yakin sekali. “Aku bukan orang yang bisa di ajak hidup bersama.” ia masih mencoba berkilah. Berlari lagi.

 

“Setiap orang punya pendapatnya sendiri. Kau bisa atau tidak―kau tidak pernah tahu, karena kau belum mencoba.”

 

“Kau tidak mempermainkanku?”

 

“Kau baru saja meminta penjelasannya. Aku terus berpikir sampai tidak bisa tidur selama berminggu-minggu setelah bertemu denganmu.”

 

Pernyataan itu memberinya kejut kecil, “Aku seorang transgender.”

 

“Aku tahu sejak pertamakali bertemu. Sudah kubilang, aku punya radar alami.”

 

Beth masih bergelut dengan pikirannya, memberi jeda waktu yang cukup panjang. Tao mengetuk meja saat tidak mendapat sahutan. “Aku akan mengantarmu pulang.”

 

Ia mengeluarkan lembaran uang dan meletakkannya di meja. Memungut kunci mobilnya, kemudian meraih pelan pergelangan tangan Beth hingga wanita itu ikut berdiri dari kursinya.

 

“Keberatan memberiku waktu?” Beth bertanya hati-hati.

 

Di luar dugaan, Tao menggandengnya keluar kedai, “Tidak, tentu saja tidak. Tapi aku benci penolakan.”

 

“Baiklah.”

 

Sejurus kemudian, Tao takjub saat Beth membalas genggaman tangannya. Erat.

.

.

.

.

-fin.

 

[Author’s Note:

Apa ya, gue bingung. Intinya menurut gue kalo genrenya ini gabisa dibilang gc jadi sebenernya gimana ya kok gua bingung sendiri. Yaudalah intinya jadi aja wkwkwk

Sorry for typos and mind to review?^^]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s